Setelah postingan kemarin membahas Tentang Batu Ginjal dari konsep medis sekarang saya akan memposting tentang Askep pada klien dengan batu ginjal.
FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah
1. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
- Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk
- Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi
- Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera serebrovaskuler, tirah baring lama)
2. Sirkulasi
Tanda:
- Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)
- Kulit hangat dan kemerahan atau pucat
3. Eliminasi
Gejala:
- Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya
- Penrunan volume urine
- Rasa terbakar, dorongan berkemih
- Diare
Tanda:
- Oliguria, hematuria, piouria
- Perubahan pola berkemih
4. Makanan dan cairan:
Gejala:
- Mual/muntah, nyeri tekan abdomen
- Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat
- Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup
Tanda:
- Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus
- Muntah
5. Nyeri dan kenyamanan:
Gejala:
- Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu ginjal menimbulkan nyeri dangkal konstan)
Tanda:
- Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi
- Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit
6. Keamanan:
Gejala:
- Penggunaan alkohol
- Demam/menggigil
7. Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:
- Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis
- Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme
- Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.
Tes Diagnostik
Lihat konsep medis.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema dan iskemia seluler.
2. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
3. Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema dan iskemia seluler.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Catat lokasi, lamanya/intensitas nyeri (skala 1-10) dan penyebarannya. Perhatiakn tanda non verbal seperti: peningkatan TD dan DN, gelisah, meringis, merintih, menggelepar.
2. Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan kepada staf perawatan setiap perubahan karakteristik nyeri yang terjadi.
3. Lakukan tindakan yang mendukung kenyamanan (seperti masase ringan/kompres hangat pada punggung, lingkungan yang tenang)
4. Bantu/dorong pernapasan dalam, bimbingan imajinasi dan aktivitas terapeutik.
5. Batu/dorong peningkatan aktivitas (ambulasi aktif) sesuai indikasi disertai asupan cairan sedikitnya 3-4 liter perhari dalam batas toleransi jantung.
6. Perhatikan peningkatan/menetapnya keluhan nyeri abdomen.
7. Kolaborasi pemberian obat sesuai program terapi:
- Analgetik
- Antispasmodik
- Kortikosteroid
8. Pertahankan patensi kateter urine bila diperlukan.
Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Awasi asupan dan haluaran, karakteristik urine, catat adanya keluaran batu.
2. Tentukan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi yang terjadi.
3. Dorong peningkatan asupan cairan.
4. Observasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran.
5. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, BUN, kreatinin)
6. Berikan obat sesuai indikasi:
- Asetazolamid (Diamox), Alupurinol (Ziloprim)
- Hidroklorotiazid (Esidrix, Hidroiuril), Klortalidon (Higroton)
- Amonium klorida, kalium atau natrium fosfat (Sal-Hepatika)
- Agen antigout mis: Alupurinol (Ziloprim)
- Antibiotika
- Natrium bikarbonat
- Asam askorbat
7. Pertahankan patensi kateter tak menetap (uereteral, uretral atau nefrostomi).
8. Irigasi dengan larutan asam atau alkali sesuai indikasi.
9. Siapkan klien dan bantu prosedur endoskopi.
Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Awasi asupan dan haluaran
2. Catat insiden dan karakteristik muntah, diare.
3. Tingkatkan asupan cairan 3-4 liter/hari.
4. Awasi tanda vital.
5. Timbang berat badan setiap hari.
6. Kolaborasi pemeriksaan HB/Ht dan elektrolit.
7. Berikan cairan infus sesuai program terapi.
8. Kolaborasi pemberian diet sesuai keadaan klien.
9. Berikan obat sesuai program terapi (antiemetik misalnya Proklorperasin/ Campazin).
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Tekankan pentingnya memperta-hankan asupan hidrasi 3-4 liter/hari.
2. Kaji ulang program diet sesuai indikasi.
- Diet rendah purin
- Diet rendah kalsium
- Diet rendah oksalat
- Diet rendah kalsium/fosfat
3. Diskusikan program obat-obatan, hindari obat yang dijual bebas.
4. Jelaskan tentang tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik (nyeri berulang, hematuria, oliguria)
5. Tunjukkan perawatan yang tepat terhadap luka insisi dan kateter bila ada.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta
Purnomo, BB ( 2000), Dasar-dasar Urologi, Sagung Seto, Jakarta
Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.
http://creamkulit.com/
About Me
- Unknown
Categories
- adventure1331 (35)
- Aneka Tips (2)
- artikel Asuhan Keperawatan medikal bedah (1)
- artikel gawat darurat (1)
- artikel gawat darurat lagi (1)
- artikel gerontik (1)
- artikel gerontik pada lansia (1)
- artikel keperawatan anak (1)
- artikel keperawatan anak dengan demam berdarah (1)
- artikel keperawatan jiwa (2)
- artikel keperawatan jiwa umum (1)
- artikel keperawatan medikal bedah (1)
- Artikel Kesehatan (11)
- Artikel Penyakit (8)
- Artritis gout (1)
- Asam urat (1)
- Asfiksia Neonatorum (1)
- ASI (1)
- ASI Ekslusif (1)
- ASI pro tumbang (1)
- Askep Kardiovaskuler (1)
- Askep Keperawatan Kritis (1)
- Askep Medikal Bedah (3)
- Askep Sistem Perkemihan (1)
- Askep Sistem Pernafasan (1)
- Bedah jantung (1)
- Bronkhitis (1)
- Dispepsia (1)
- Emfisema (1)
- flu burung (1)
- GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI RADANG GENETALIA (1)
- GLOMEROLONEPHRITI AKUT ( GNA ) (1)
- Halusinasi (1)
- Herbal (2)
- Hernia (1)
- HERNIA NUKLEUS PULPOSUS - HNP (1)
- Hidronefrosis (1)
- Hikmah dan Motivasi (2)
- ISPA (1)
- Kesehatan Ibu dan Anak (3)
- Keuangan Keluarga (1)
- krisis pada lansia (1)
- Parenting (3)
- PEMENUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR (1)
- stmik (1)
- teknik asertif (1)
- wisantara (1)
Blog Archive
-
▼
2013
(114)
-
▼
Juli
(23)
- Lendir Siput, Obat Anti-penuaan?
- Bahayanya Jika Remaja Sudah Kecanduan Botox
- Resep kulit Cantik Bebas Jerawat
- Mengubah Wajah tanpa Hasil Dramatis
- Cantik Instan Jelang Lebaran
- Asupan untuk Kulit Lebih Muda
- Trik Diet Aman dan Berkelanjutan
- Cara Mencegah Bibir Kering Saat Berpuasa
- 95 Persen Perempuan Pakai Make-up Saat Tidur
- Melawan Penuaaan Dini Cukup dengan Tabir Surya?
- Pria Makin Butuh Produk "Kecantikan"
- Pria 40-an Kini Jadi Idaman Perempuan
- 9 Tipe Rekan Kerja yang Bikin Kantor Lebih "Meriah"
- 5 Cara Atasi Hidung Berminyak
- Lawan Keriput dengan Masker Royal Jelly
- Masker Anti Penuaan Terbaru dari Jepang
- Minum Teh Bisa Menyehatkan Kulit
- Masalah Kulit Dipengaruhi Aktivitas Sehari-hari
- Pelembab Wajah Bisa Bikin Jerawatan?
- Tepat Merawat Bekas Jerawat
- Bersihkan Wajah Sebelum Olahraga
- Cara Bikin Kulit Kencang seperti Bayi
- Cara Pulihkan Wajah dari Sengatan Matahari
-
▼
Juli
(23)
Diberdayakan oleh Blogger.
16.42
17.12
Sahabat, setelah kemaren saya memposting tentang 6 Hal Penting Diare Akut Pada Anak pada kesempatan kali ini saya akan posting Tentang Batu Ginjal dari perspektif/konsep medis terlebih dahulu, sebelum nanti dilanjutkan ke Askep (Asuhan Keperawatan) Pada Pasien Dengan Batu Ginjal.
Pengertian
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra.
Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69).
Insidens dan Etiologi
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih.
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
Faktor intrinsik, meliputi:
1. Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
2. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
3. Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.
Faktor ekstrinsik, meliputi:
1. Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu)
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
4. Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih.
5. Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).
Teori Terbentuknya Batu Saluran Kemih
Beberapa teori terbentuknya batu saluran kemih adalah:
Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau sabuk batu (nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh akan mengendap di dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti bantu dapat berupa kristal atau benda asing saluran kemih.
Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-kristal batu.
Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa zat ini berkurang akan memudahkan terbentuknya batu dalam saluran kemih.
Komposisi Batu
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn dan sistin. Pengetahuan tentang komposisi batu yang ditemukan penting dalam usaha pencegahan kemungkinan timbulnya batu residif.
Batu Kalsium
Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Faktor tejadinya batu kalsium adalah:
1. Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid.
2. Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam.
3. Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme endogen.
4. Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu lama.
5. Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium ddengan oksalat.
Batu Struvit
Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini dipicu oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan pemecah urea (uera splitter seperti: Proteus spp., Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus) yang dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini memudahkan garam-garam magnesium, amonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP) dan karbonat apatit.
Batu Urat
Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih, banyak dialami oleh penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein dengan obat sitostatika dan urikosurik (sulfinpirazone, thiazide dan salisilat). Kegemukan, alkoholik dan diet tinggi protein mempunyai peluang besar untuk mengalami penyakit ini. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH < 6, volume urine < 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria.
Patofisiologi
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal)
Gambaran Klinik dan Diagnosis
Keluhan yang disampaikan pasien tergantung pada letak batu, besar batu dan penyulit yang telah terjadi. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok di daerah kosto-vertebra, teraba ginjal pada sisi yang sakit akibat hidronefrosis, ditemukan tanda-tanda gagal ginjal, retensi urine dan jika disertai infeksi didaptkan demam/menggigil.
Pemeriksaan sedimen urine menunjukan adanya lekosit, hematuria dan dijumpai kristal-kristal pembentuk batu. Pemeriksaan kultur urine mungkin menunjukkan adanya adanya pertumbuhan kuman pemecah urea.
Pemeriksaan faal ginjal bertujuan mencari kemungkinan terjadinya penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersipkan pasien menjalani pemeriksaan foto PIV. Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai penyebab timbulnya batu salran kemih (kadar kalsium, oksalat, fosfat maupun urat dalam darah dan urine).
Pembuatan foto polos abdomen bertujuan melihat kemungkinan adanya batu radio-opak dan paling sering dijumpai di atara jenis batu lain. Batu asam urat bersifat non opak (radio-lusen).
Pemeriksaan pieolografi intra vena (PIV) bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu PIV dapat mendeteksi adanya batu semi opak atau batu non opak yang tidak tampak pada foto polos abdomen.
Ultrasongrafi dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV seperti pada keadaan alergi zat kontras, faal ginjal menurun dan pada pregnansi. Pemeriksaan ini dapat menilai adanya batu di ginjal atau buli-buli (tampak sebagai echoic shadow), hidronefrosis, pionefrosis atau pengkerutan ginjal.
Penatalaksanaan
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus segera dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk melakukan tindakan pada batu saluran kemih adalah telah terjadinya obstruksi, infeksi atau indikasi sosial. Batu dapat dikeluarkan melalui prosedur medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endo-urologi, bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka.
Pencegahan
Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya adalahupaya mencegah timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7%/tahun atau kambuh >50% dalam 10 tahun.
Prinsip pencegahan didasarkan pada kandungan unsur penyusun batu yang telah diangkat. Secara umum, tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah:
1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-3 liter per hari
2. Diet rendah zat/komponen pembentuk batu
3. Aktivitas harian yang cukup
4. Medikamentosa
Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan adalah:
1. Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam.
2. Rendah oksalat
3. Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria
4. Rendah purin
5. Rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada hiperkalsiuria absorbtif type II
Demikian artikel Tentang Batu Ginjal, semoga bermanfaat. Selanjutnya pada kesempatan selanjutnya saya akan memposting Askep Pada Pasien Dengan Batu Ginjal.
21.11
Diare merupakan gangguan kesehatan yang sering kali terjadi pada anak oleh karena itu perlu kiranya sahabat untuk mengetahui ha-hal prinsipil yang perlu diketahu jika anak mengalami diare. Berikut ini saya postingkan 5 hal penting diare akut pada anak.
- Kebanyakan episode diare akut hilang dengan sendirinya, namun, pertolongan medis segera harus dicari untuk anak yang memiliki salah satu dari berikut : diare berdarah; tanda-tanda dehidrasi sedang sampai parah; menolak makan atau minum apa pun; sakit perut yang datang dan pergi atau makin parah, perubahan perilaku, termasuk kelesuan atau menurun respons/kesadaran.
- Penyebab paling umum dari diare akut adalah infeksi virus. Penyebab lainnya adalah infeksi bakteri, efek samping penggunaan antibiotik, dan infeksi tubuh lainnya yang tidak berhubungan dengan sistem gastrointestinal (GI).
- Anak-anak yang tidak mengalami dehidrasi harus terus tetap makan/diet yang biasa mereka makan. Anak-anak yang dehidrasi harus direhidrasi, setelah itu mereka dapat melanjutkan diet normal mereka (mungkin dengan beberapa modifikasi). Anak-anak yang sedang menyusui harus terus diberi ASI kecuali diberitahu sebaliknya oleh dokter.
- Terapi rehidrasi oral (ORT) harus segera diberikan kepada anak-anak yang mengalami dehidrasi. Tanda-tanda umum dan gejala dari dehidrasi termasuk buang air kecil menurun (kurang dari satu popok basah atau kekosongan dalam enam jam), kurangnya air mata ketika menangis, mulut kering, mata cekung, dan penurunan berat badan. ORT dapat dibeli di toko grosir dan apotek di tanpa resep (mis;oralit)
- Obat-obatan seperti antibiotik dan agen anti-diare umumnya tidak dianjurkan untuk bayi atau anak-anak dengan diare.
- Orang tua dengan anak yang mengalami diare harus berhati-hati untuk menghindari penyebaran infeksi kepada diri mereka sendiri, keluarga, teman, dan lainnya. Mencuci tangan, mengganti popok, dan biarkan anak yang sakit tidak masuk sekolah/ tempat penitipan anak.
Demikian semoga bermanfaat..
00.38
Sahabat, sudah dua minggu lebih buah hati kami "maghfi" lepas dari menggunakan dot susu. Meskipun berawal dari "insiden" lupa bawa dot ketika mengunjungi tantenya di Tangerang, namun Alhamdulillah hikmah dari "insiden" tersebut anak kami bisa disapih secara tidak sengaja dari dot kesayangannya.Meskipun telat -karena usia anak saya hampir genap tiga tahun-, namun jika dibandingkan dengan ana-anak nya teman saya bisa dibilang lumayan, karena ada yang udah usia empat bahkan lima tahun belum juga (susah) untuk disapih.
Flash back ke tiga tahun yang lalu, ketika buah hati kami lahir kami berkomitmen untuk memberikan ASI ekslusif. Dan Alamdulillah komitmen itu bisa terwujud, selama istri cuti melahirkan selama itu pula kami menabung ASI di kulkas untuk stock nanti bila istri sudah masuk kerja.
Namun ternyata tabungan ASI itu tidaklah cukup, jadi tiap hari istri saya bawa peralatan untuk memerah ASI di kantornya, perjuangan yang luar biasa dan tidak semua bisa tahan untuk menjalaninya. Namun Alhamdulillah dengan tekad yang kuat untuk memberikan yang terbaik buat anak, maka masa-masa enam bulan pertama kehidupan anak kami, hanya "ASI" lah sumber utama makanannya.
Jadilah anak kami lulus dan mendapatkan sertifikat "ASI EKSLUSIF" hehee, Alhamdulillah terima kasih ya Allah, terima kasih istri ku tercinta...
Berikut saya postingkan artikel "Anak Sehat dan Cerdas Dengan ASI" mudah-mudahan bisa menjadi motivasi buat ayah & ibu juga calon ayah & ibu yang ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa ada cara yang mudah dan murah agar anak sehat dan cerdas. Dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, Ketua Sentra Laktasi Indonesia mengatakan, Menyusui ASI eksklusif dapat meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak.
Sayangnya, para ibu di Indonesia banyak yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Padahal dengan memberikan ASI, kesehatan dan kecerdasan sang bayi pun terjamin. Tidak hanya itu, sang ibu pun mendapatkan salah satu manfaat yaitu menjadi lebih jarang terkena kanker payudara.
Kunci Agar Anak Sehat dan Cerdas
Ada 2 faktor yang mempengaruhi kecerdasan, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Menurut dr. Bernard Devlin dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg, Amerika Serikat memperkirakan faktor genetik hanya menyumbang 48% dalam membentuk IQ anak. Sisanya adalah faktor lingkungan.
Lingkungan penting karena memiliki peran lebih besar daripada genetik. Faktor lingkungan terdiri dari asuh, asah dan asih. Asuh berarti memberikan kebutuhan untuk pertumbuhan fisik, Asah berarti memberikan stimulasi atau pendidikan, Asih berarti memberikan kebutuhan psychososial.
Agar perkembangan kesehatan dan kecerdasan anak tidak terganggu, orang tua perlu menjaga nutrisi. Hal ini penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak terutama otak karena kepandaian berhubungan dengan pertumbuhan otak.
ASI Eksklusif adalah nutrisi terbaik dalam kualitas dan kuantitas pada saat masa lompatan pertumbuhan otak yang terjadi dari 0 sampai 6 bulan
ASI mengandung nutrient yang mempunyai fungsi spesifik untuk pertumbuhan otak antara lain long chain polyunsaturated fatty acid (DHA dan AA) untuk pertumbuhan otak dan retina, kolesterol untuk myelinisasi jaringan syaraf, taurin untuk neurontransmitter inhibitor dan stabilisator membran, laktosa untuk pertumbuhan otak, koline yang mungkin meningkatkan memori.
Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan selain bagus untuk perkembangan otak, juga bagus untuk mempersiapkan sistem pencernaan bayi karena pada saat lahir, enzim pencernaan bayi masih belum lengkap dan hanya bisa digunakan untuk mencerna ASI. Perlu diketahui bahwa ASI mengandung lebih dari 100 macam enzim yang membantu penyerapan zat gizi yang terkandung di dalam ASI.
Proses menyusui ASI tidak hanya sekedar memberi makan tapi juga mendidik dan memberikan kebutuhan psychososial. Proses menyusui itu merupakan stimulasi bagi pendidikan anak karena ada kontak mata, diajak bicara, dipeluk, dan dielus-elus oleh sang ibu.
Sehat dan Cerdas dengan ASI
Di luar negeri telah banyak dilakukan penelitian terhadap anak yang menyusui ASI lebih dari setengah abad yang lalu. Mulai dari Douglas tahun 1950 yang menemukan bahwa anak ASI lebih cepat bisa berjalan, sampai penelitian oleh Lucas (1996) dan Riva (1998) yang menemukan bahwa nilai IQ anak ASI lebih tinggi beberapa poin.
Berdasarkan hasil studi Horwood & Fergusson tahun 1998 terhadap 1000 anak berusia 13 tahun di Selandia Baru, tampak kecenderungan kenaikan lama pemberian ASI sesuai dengan peningkatan IQ, hasil tes kecerdasan standar, peningkatan rangking di sekolah dan peningkatan angka di sekolah.
Tidak hanya itu, penelitian lain yang dilakukan di negara yang berbeda pada tahun 2002 juga seiya sekata dengan hasil studi Horwood & Fergusson. Richards dkk di Inggris menemukan bahwa anak-anak yang diberi ASI secara bermakna menunjukkan hasil pendidikan yang lebih tinggi.
Semua hasil penelitian tersebut menyakinkan manfaat positif memberikan ASI bahwa anak ASI lebih cerdas. Dr. Utami Roesli, Sp.A ini menegaskan, Anak yang diberi ASI akan lebih sehat, IQ lebih tinggi, EQ dan SQ lebih baik bahkan soleh dan solehah . Aaamiin
08.07
Sahabat,, dalam postingan di penghujung Januari kali ini saya akan mencoba untuk berbagi mengenai tips mencegah dan mengobati jerawat. Yups penyakit yang satu ini meskipun relatif tak membahayakan namun seringkali membuat penderitanya jengkel atau bahkan frustasi dengan mejengnya jerawat di wajah. Terutama bagi usia-usia pubertas bisa-bisa menimbulkan gangguan body image HDR (Harga Diri Rendah :) heheee1. Jaga agar wajah tetap bersih. Terlepas dari memiliki jerawat ataupun tidak, sangatlah penting untuk tetap mencuci muka sahabat sehari-hari secara teratur untuk menghilangkan kotoran, mengangkat sel-sel kulit mati, dan mengurangi kelebihan minyak dari permukaan kulit. Sebaiknya gunakan air hangat dan pembersih wajah ringan. Menggunakan sabun yang keras (seperti sabun deodoran tubuh) bisa melukai kulit yang sudah meradang dan menyebabkan iritasi yang lebih parah.
Hindari menggosok kulit sahabat dengan handuk kasar, sarung tangan pengelupasan, atau loofah (spons kasar bertekstur). Basuhlah dengan tangan yang bersih atau kain yang sangat lembut. Selalu bilas dengan baik, dan kemudian keringkan wajah sahabat dengan handuk bersih.
2. Gunakan Pelembab. Banyak produk jerawat topikal yang mengandung bahan-bahan yang membuat kulit kering, jadi selalu gunakan pelembab yang dapat meminimalkan kekeringan dan kulit mengelupas. Pelembab berbasis gel biasanya bekerja dengan baik untuk kulit berminyak. Jika memiliki kulit kering, cobalah krim pelembab atau lotion. Kulit kombinasi mungkin perlu dua produk (krim atau lotion untuk bagian kering; gel untuk bagian berminyak). Biasakan untuk mencuci muka dengan air sebelum melembabkannya.
3. Cobalah produk jerawat topikal (yang dioleskan ke kulit). Produk jerawat mungkin mengandung bahan-bahan seperti benzoyl peroxide, agen antibakteri dengan efek pengeringan, atau asam salisilat. Mulailah dengan jumlah yang kecil pada awal penggunaan. Kemudian bisa di tingkatkan atau dikurangi serta seberapa sering sahabat menerapkannya, tergantung dari seberapa banyak efek pengelupasan atau pengeringan yang terjadi. Gunakan dengan hati-hati jika sahabat memiliki kulit sensitif. Benzoil peroksida dapat menyebabkan kemerahan dan pengelupasan dari kulit.
4. Gunakan riasan make up yang ringan. Selama penobatan cobalah untuk menghindari mengenakan foundation, bedak, atau blush. Jika sahabat memakai make-up, cucilah segera di sore hari. Jika memungkinkan, pilih kosmetik bebas minyak tanpa pewarna tambahan dan bahan kimia. Pakailah kosmetik berbasis air yang tersedia. Baca daftar bahan pada label produk sebelum membeli.
5. Perhatikan apa yang sahabat gunakan pada rambut sahabat. Hindari menggunakan wewangian, minyak, dan bahan kimia pada rambut. Bahan-bahan tersebut dapat menetes di wajah, menyumbat pori-pori kulit dan bisa membuat kulit iritasi. Gunakan shampo dan kondisioner yang lembut. Rambut berminyak dapat menambah minyak di wajah sahabat, sehingga dianjurkan untuk mencuci rambut dengan sering, terutama selama jerawat sedang muncul. Jika memiliki rambut panjang, jangan biarkan rambut menutupi wajah sahabat.
6. Jauhkan tangan dari wajah sahabat. Hindari menyentuh wajah atau menyangga pipi atau dagu dengan tangan. Karena selain dapat menyebarkan bakteri, juga dapat mengiritasi kulit wajah yang sudah meradang. Jangan pernah memencet atau memecahkan jerawat dengan jari-jari secara langsung, karena dapat mengakibatkan infeksi dan jaringan parut.
7. Hindari paparan sinar matahari secara langsung. Sinar ultraviolet dari matahari dapat meningkatkan peradangan dan kemerahan. Juga beberapa obat jerawat oral dan topikal dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari. Terlepas dari memiliki jerawat ataupun tidak, sebaiknya selalu menerapkan tabir surya dengan SPF 15 atau lebih tinggi setidaknya 20 menit sebelum paparan sinar matahari. Carilah tabir surya non-acnegenic untuk mengurangi kemungkinan jerawat baru. Sekali lagi, selalu membaca bahan pada label produk sebelum sahabat menggunakannya.
8. Nutrisi kulit. Kebanyakan ahli setuju bahwa makanan tertentu, seperti coklat dan keripik, tidak memicu wabah jerawat. Namun, masuk akal untuk menghindari makanan berminyak dan junk food dan menambahkan lebih banyak buah segar dan sayuran dan biji-bijian untuk diet sahabat. Beberapa studi menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan tinggi vitamin A dan beta-karoten dapat meningkatkan kekebalan dan kesehatan kulit. Wortel, ubi jalar, melon, aprikot, kangkung, dan bayam yang semua tinggi di beta-karoten, yakni tipe vitamin A yang dihasilkan oleh tanaman.
9. Olahraga. Olahraga teratur setiap hari adalah baik untuk pikiran dan tubuh, termasuk kulit -organ tubuh terbesar??. Olahraga juga mengurangi kecemasan dan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Ketika berolahraga, hindari memakai pakaian atau menggunakan peralatan latihan yang menggosok pada kulit dan dapat menyebabkan iritasi. Juga, hindari memakai topi, kacamata, atau helm yang menyebabkan berkeringat berlebihan, karena hal ini dapat mengiritasi kulit dan meningkat kan pertumbuhan bakteri. Jangan lupa untuk selalu mandi setelah berolahraga.
10. Hindari stress. Para ahli percaya bahwa keadaan emosional kita adalah terkait dengan semua aspek kesehatan, termasuk fungsi kulit.! Beberapa studi menyimpulkan bahwa tingkat stres berhubungan dengan tingkat keparahan jerawat. Luangkan waktu untuk memahami reaksi stres, cobalah untuk mencari tahu apa yang menyebabkan sahabat merasa stres. Temukan cara yang efektif untuk mengatasi stres sebelum memicu dan menyebabkan munculnya jerawat yang lebih parah.
Timbulnya jerawat adalah normal selama masa remaja, namun penting juga untuk memahami beberapa langkah atau tips perawatan diri setiap hari untuk mengelola masalah kulit sebelum terjadi masalah yang lebih serius termasuk tips dalam mencegah dan mengobati jerawat. Jika ragu, periksakan diri pada penyedia layanan kesehatan untuk mengetahui apakah pengobatan lebih lanjut diperlukan untuk mencegah atau menghentikan jerawat.
Demikian semoga bermanfaat....
Label: Artikel Kesehatan
18.28
Sahabat setelah beberapa waktu yang lalu memposting tentang Asuhan keperawatan pada pasien dengan ventilator kali ini saya memposting tentang Asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi mudah-mudahan bisa bermanfaat.Hipertensi ( tekanan darah tinggi ) merupakan masalah kesehatan yang paling banyak dialami oleh orang dewasa dan merupakan faktor risiko untuk terjadinya gangguan kardiovaskular. Hipertensi adalah tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg selama periode yang berkelanjutan, berdasarkan rata-rata dari dua atau lebih pengukuran tekanan darah.
Ada dua jenis hipertensi yakni hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak dapat diidentifikasi penyebabnya. Juga dikenal sebagai hipertensi esensial. Pada beberapa pasien dengan hipertensi primer, ada kecenderungan turun-temurun yang kuat.
Jenis hipertensi yang kedua yaitu hipertensi sekunder atau hipertensi maligna adalah istilah yang digunakan untuk penyakit tekanan darah tinggi yang penyebabnya dapat diidentifikasi. Hipertensi jenis ini biasanya disebabkan oleh terjadinya masalah di organ lain misalnya masalah di ginjal; stenosis arteri renalis.
Penyebab Hipertensi
Meskipun penyebab yang tepat untuk sebagian besar kasus hipertensi tidak dapat diidentifikasi, dapat dipahami bahwa hipertensi adalah kondisi multifaktorial. Karena hipertensi adalah suatu tanda/ sign, kemungkinan besar memiliki banyak penyebab, seperti halnya demam yang juga memiliki banyak penyebab. Terjadinya hipertensi biasanya karena adanya perubahan dalam satu atau lebih faktor-faktor yang mempengaruhi resistensi perifer atau cardiac output. Selain itu, juga adanya masalah dengan sistem kontrol/regulasi yang memantau atau mengatur tekanan darah.
- Primer hipertensi atau hipertensi esensial (90% sampai 95% Kasus) menyebabkan Precise diketahui
- Hipertensi sekunder atau penyebab hipertensi maligna oleh:
GINJAL: glomerulonefritis akut, penyakit ginjal kronis, penyakit polikistik, stenosis arteri ginjal, vaskulitis ginjal, tumor yang memproduksi renin.
KARDIOVASKULAR: Koarktasio aorta, Peningkatan volume intravaskular, peningkatan cardiac output, Kekakuan aorta;atherosklerosis aorta
ENDOKRIN: hyperfunction adrenocortical, misalnya hormon eksogen (glukokortikoid, estrogen termasuk penggunaan kontrasepsi oral,), pheochromocytoma, Hipotiroidisme, Hipertiroidisme, Hipertensi dalam masa kehamilan
NEUROLOGIS: psikogenik, Peningkatan tekanan intrakranial, Sleep apnea, stres akut, termasuk operasi
Komplikasi Hipertensi
Hipertensi merupakan penyebab utama terjadinya stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Komplikasi biasanya terjadi secara lambat dan dapat menyerang berbagai sistem organ.
Komplikasi terhadap organ jantung diantaranya :
- Penyakit arteri koroner (CAD)
- Angina pektoris
- Infark miokard
- Gagal jantung
- Aritmia
- Kematian mendadak
Komplikasi neurologis:
- Infark Cerebri / stroke infark
- Ensefalopati hipertensi dapat menyebabkan kebutaan.
- Renovaskular hipertensi dapat menyebabkan gagal ginjal
Terapi farmakologis, pengaturan diet dan modifikasi gaya hidup dapat mengendalikan hipertensi. Pedoman saat ini untuk mengobati hipertensi sebagai langkah pertama yang direkomendasikan adalah modifikasi gaya hidup yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas fisik dan penurunan berat badan pada kebanyakan pasien. Sayangnya, banyak pasien tidak mampu untuk menurunkan berat badan, dan dengan demikian pengobatan farmakologis dengan obat antihipertensi harus dimulai.
Dua kelas obat yang umum digunakan untuk mengobati hipertensi:
Vasodilator,obat yang meningkatkan aliran darah ginjal
Natriuretik atau diuretik, obat yang menurunkan reabsorpsi tubular garam dan air.
Pengkajian Keperawatan
Riwayat kesehatan
Riwayat anggota keluarga dengan hipertensi
Riwayat hipertensi sebelumnya yang pernah dialami
Kebiasaan dan diet asupan garam
Riwayat penyakit lain yang dapat menempatkan pasien dalam kelompok berisiko tinggi; diabetes, CAD, penyakit ginjal
Merokok
Episode sakit kepala, kelemahan, kram otot, kesemutan, jantung berdebar, berkeringat, gangguan penglihatan
Penggunaan Obat yang dapat meningkatkan Tekanan Darah:
Kontrasepsi hormonal, steroid
NSAID
Nasal dekongestan, penekan nafsu makan, antidepresan trisiklik
Proses penyakit lainnya, seperti asam urat, migrain, asma, gagal jantung, dan hiperplasia prostat jinak, yang dapat dibantu atau diperburuk oleh obat hipertensi tertentu.
Pemeriksaan fisik
- Auskultasi denyut jantung dan palpasi nadi perifer; pernapasan.
- Jika kompeten dalam melakukannya, melakukan pemeriksaan funduskopi mata untuk tujuan mengkaji adanya perubahan vaskular. Carilah edema, spasme, dan perdarahan dari pembuluh mata. Rujuk ke dokter mata untuk diagnosis definitif.
- Periksa jantung untuk pergeseran dari titik impuls maksimal ke kiri, yang terjadi pada pembesaran jantung.
- Auskultasi bising/bruits dari arteri perifer untuk menentukan adanya aterosklerosis, yang dapat dimanifestasikan sebagai aliran darah yang terhambat.
- Menentukan status mental dengan mengkaji pasien tentang ingatan/ memori, kemampuan untuk berkonsentrasi, dan kemampuan untuk melakukan perhitungan matematika sederhana.
- Pengukuran Tekanan Darah; Auskultasi dan mengukur dan mencatat dengan tepat tekanan sistolik dan diastolik pasien.
Diagnosis keperawatan yang biasa ditemukan pada pasien dengan hipertensi
- Kurangnya pengetahuan tentang penyakit,pengobatan dan pengendaliannya
- Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan efek obat yang merugikan dan penyesuaian gaya hidup yang sulit
- Kurangnya (modifikasi gaya hidup)
- Kelelahan
- Ketidakefektifan koping
- Perfusi jaringan yang tidak efektif: Cardiopulmonary
- Ketidakpatuhan: regimen terapeutik
- Risiko untuk cedera
Pasien dengan hipertensi :
- Bebas dari komplikasi.
- Dapat Mengidentifikasi pilihan makanan yang tepat.
- Mengungkapkan bahwa ia memiliki lebih banyak energi.
- Menjaga cardiac output yang memadai dan stabilitas hemodinamik.
- Menunjukkan perilaku koping adaptif
- Mematuhi rejimen terapinya.
- Menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang tekanan darah tinggi, efek obat, dan aktivitas terapi yang diresepkan
- Membawa obat-obatan, membuat janji untuk tindak lanjut
Intervensi Keperawatan : Memberikan penkes (health education):
- Jelaskan arti dari tekanan darah tinggi, faktor risiko
- Jelaskan pengaruh tekanan darah tinggi pada sistem kardiovaskular, otak, dan ginjal.
- Menekankan Hipertensi yang tidak pernah bisa sembuh total tapi hanya bisa mengendalikan, menekankan konsekuensi dari hipertensi yang tidak terkontrol.
- Menekankan fakta bahwa mungkin tidak ada korelasi antara tekanan darah tinggi dan gejala, pasien tidak bisa tahu dari cara dia merasakan apakah tekanan darah normal atau meningkat.
- Apakah pasien menyadari bahwa hipertensi kronis dan membutuhkan terapi gigih dan evaluasi berkala.
- Memberitahukan pasien arti dari kegiatan diagnostik dan terapeutik untuk meminimalkan berbagai kecemasan dan untuk mendapatkan kerjasama.
- Meminta bantuan dari pasangan pasien, keluarga, dan teman-teman memberikan informasi mengenai rencana pengobatan total.
- Rencanakan pengembangan modifikasi makanan untuk pasien tertentu.
- Jelaskan kontrol farmakologis hipertensi.
- Jelaskan bahwa obat yang digunakan untuk kontrol yang efektif dari tekanan darah tinggi mungkin akan menghasilkan efek yang merugikan.
- Memperingatkan pasien kemungkinan bahwa hipotensi ortostatik mungkin terjadi awalnya dengan beberapa terapi obat: Anjurkan pasien untuk bangun perlahan untuk mengimbangi perasaan pusing, Dorong pasien untuk duduk atau berbaring segera jika ia merasa lemah
- Pemberitahuan pasien untuk mengharapkan efek awal, seperti anoreksia, pusing, dan kelelahan, dengan banyak obat.
- Beritahu pasien bahwa tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan tekanan darah, mengurangi kemungkinan komplikasi, dan menggunakan jumlah minimum obat dengan dosis terendah yang diperlukan untuk mencapai hal ini.
- Mendidik pasien untuk menyadari efek samping yang serius dan laporan mereka segera sehingga penyesuaian dapat dibuat dalam farmakoterapi individu.
- Perhatikan bahwa dosis yang individual, sehingga mereka mungkin perlu disesuaikan karena sering tidak mungkin untuk memprediksi reaksi.
- Peringatkan pasien dengan obat vasodilatasi untuk berhati-hati dalam situasi tertentu yang menghasilkan vasodilatasi mandi air panas, cuaca panas, penyakit demam, konsumsi alkohol yang dapat memperburuk penurunan tekanan darah.
- Peringatkan pasien bahwa tekanan darah sering menurun ketika volume sirkulasi darah berkurang seperti pada dehidrasi, diare, dan perdarahan sehingga tekanan darah harus dipantau secara ketat dan pengobatan disesuaikan.
16.33
Kemaren siang tiba-tiba si kecil yang sedang main di rumah tetangga pulang ke rumah sambil gedor-gedor pintu. Dia berteriak, "Abi...! Dede ngggak boleh masuk ke rumah teteh..." belum sempet saya bertanya lebih lanjut, maka sekonyong-konyong meledaklah tangisan anak saya tersebut. Tangisan yang tak seperti biasanya;dengan intensitas suara yang tinggi dia menjerit-jerit, juga menjatuhkan diri di lantai dan berguling-guling. Saya yang berusaha untuk menenangkannya hampir kewalahan karena mau dipeluk pun ia berontak sambil melengkungkan tubuhnya berusaha melepaskan diri. Dan hal tersebut berlangsung cukup lama.Mungkin di antara sobat sekalian yang sudah memiliki buah hati, pernah juga mengalami hal yang sama seperti pengalaman saya. Yups itulah yang namanya "temper tantrum" atau lebih dikenal dengan sebutan "tantrum" saja. Yakni ekspresi marah yang nyaris histeris; luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Manifestasi tantrum ini beragam, mulai dari (hanya) merengek dan menangis saja, menjerit-jerit, mengguling-gulingkan badan di lantai, menendang, memukul, mencakar, bahkan ada yang sampai beraksi menahan nafas. Tantrum sering muncul pada anak usia 1 hingga 3 tahun, meskipun tidak selalu berarti perilaku ini akan menghilang dengan sendirinya setelah anak mencapai usia 3 tahun. Biasanya, tantrum ini berlangsung selama 30 detik sampai 2 menit dan intensitas tertinggi terjadi pada 30 detik pertama.
Tantrum bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Tak peduli di rumah, dalam perjalanan ataupun ditengah keramaian. Tak ayal ini membuat orangtua lumayan kalang-kabut. Daripada bingung terus menerus- yang malah akan berujung stress- dengan perilaku ini, lebih baik kita sebagai orangtua menyisihkan waktu untuk sedikit mempelajari seluk beluk tantrum.
Anak mengalami tempertantrum ketika merasa frustasi. Frustasi karena banyak yang ingin dilakukan tetapi tidak bisa, berkomunikasi tidak nyambung, jadi biasanya diekspresikan dengan berteriak, menangis dan merajuk.
Kalo anak sudah kumat seperti ini, sahabat tidak usah panik dan tetap bersifat suportif terhadap anak, tak perlu marah atau bahkan memukul (emang gampang sich kalo ngomong mah, kalo ngalamin sendiri kadang kesalnya minta ampun, terpaksa kita deh yang berteriak dalam hati atau ikut-ikutan berteriak pula hehe). Katanya lagi, anak belajar ngamuk dari orang-orang terdekat,nah loh.
Mengapa Anak Tantrum?
Sesungguhnya tantrum adalah bagian dari perkembangan anak. Ini memang suatu fase normal yang dilalui oleh semua anak. Bahkan anak-anak yang paling baik sekalipun, sekali waktu juga pernah tantrum. Menurut pakar psikologi anak, temperamen anak juga mempengaruhi kecenderungan tantrum. Anak yang bertemperamen sulit cenderung mudah tantrum.
Sesekali, sebagai orangtua, kita perlu juga memandang dunia ini dari sudut pandang anak. Seiring dengan pertambahan umurnya, anak semakin memahami lingkungannya. Mereka tahu bahwa ada banyak sekali pilihan di sekelilingnya. Di mata anak, semuanya menarik sehingga mereka ingin memiliki atau menguasai semuanya. Tak seperti orang dewasa, anak-anak (batita dan balita) memiliki keterbatasan dalam mengendalikan maupun menyalurkan emosinya. Maka, ketika keinginannya tak terpenuhi, mereka menyalurkan rasa frustasinya lewat satu-satunya cara yang ia kuasai benar, tantrum! (seperti kasus anak saya di atas yang tidak boleh masuk ke rumah teman bermainnya... :) )
Memahami faktor-faktor pemicu tantrum adalah bekal orangtua untuk menyikapi perilaku ini dengan kepala dingin.
Tak mampu mengungkapkan keinginannya Umumnya anak usia batita memiliki keterbatasan bahasa. Tapi, meski kosakatanya belum banyak, anak usia 1 tahun telah memahami banyak hal, lho! Pemahamannya melebihi kemampuan verbalnya. Coba sahabat bayangkan, bagaimana jika orang yang sahabat ajak komunikasi tak kunjung mengerti maksud sahabat? Seperti itulah yang dirasakan si kecil. Biasanya, tantrum akan berkurang seiring dengan meningkatnya kemampuan bicara anak.
Terhalangnya keinginan untuk mandiri Anak usia batita mulai tumbuh rasa kemandiriannya. Mereka ingin dan merasa bisa melakukan berbagai hal yang dilakukan oleh orangtuanya. Ketika sahabat melarangnya, maka ia menyalurkan rasa frustasinya melalui tantrum.
Tak mampu menguasai/melakukan suatu hal Anak bisa frustasi karena tak berhasil melakukan sesuatu hal yang ia anggap mampu lakukan. Misalnya, tak berhasil membuka kancing bajunya sendiri, atau tak bisa membuka tutup botol.
Ditolak permintaannya ini yang sering terjadi di toko atau supermarket, ketika Anda tak mengabulkan permintaan anak.
Lelah, lapar dan/atau merasa tak nyaman anak cenderung mudah meledak ketika mereka merasa lelah, lapar atau tidak nyaman.
Mencari perhatian kadangkala anak tantrum untuk menarik perhatian orangtuanya. Dorothy Einon, seorang pakar perilaku anak di Inggris mengatakan, anak tidak akan tantrum dengan orang yang tidak ia cintai.
Suasana hatinya memang sedang buruk Bad mood bukan monopoli orang dewasa, anak batita juga bisa, lho! Bukan tak mungkin si kecil terbangun di pagi hari dengan suasana hati yang kurang baik, dan tetap seperti itu sepanjang hari. Kalau sudah begini, lebih baik Anda bersiap-siap jika sewaktu-waktu terjadi ledakan
Berikut adalah tips yang sahabat bisa lakukan bila si kecil mengalami ledakan "tantrum" :
- Tetap tenang. Beri anak waktu menguasi diri nya sendiri
- Jangan hiraukan anak hingga dia bisa lebih tenang
- Lakukan apapun yang sedang anda lakukan selama masa tantrum berlangsung
- Jangan memukul atau melakukan hukuman fisik apapun
- Jangan menyerah pada tantrum anak, begitu menyerah mereka akan belajar mempergunakan perilaku tak pada tempatnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan
- Jangan menyuap anak dengan hadiah untuk menghentikantantrum. Anak-anak akan belajar bertindak tak semestinya untuk mendapatkanya
- Singkirkan barang-barang yang berpotensi bahaya dari jangkuan anak-anak
Label: Parenting
Langganan:
Postingan (Atom)


