Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
02.32

Tips Pengasuhan Anak

Membesarkan anak dengan baik memang tidak mudah bagi pasangan suami-istri yang bekerja. Termasuk saya juga demikian, meskipun anak baru satu namun dengan kondisi  kami yang dua-duanya bekerja sudah barang tentu memerlukan tips dan triks dalam pengasuhan anak. Berikut ini saya postingkan mengenai Tips Pengasuhan Anak Bagi  Orang Tua Yang Bekerja. Dengan panduan berikut mudah-mudahan kita dapat menjalankan tugas sebagai orangtua dan pasangan berkarier secara seimbang.

Waktu 

Hubungan orang tua - anak yang baik memerlukan waktu yang memungkinkan mereka berkumpul secara fisik. Tidak berjam-jam. Yang penting, orangtua secara konsisten meluangkan waktu bersama anak-anak hampir setiap hari. Ketika bersama mereka, jauhkan gangguan dan konsentrasikan perhatian kita kepada mereka. Waktu adalah tonggak penyangga pengasuhan yang baik.

Jadilah pendengar yang baik

Bila anak-anak mengetahui bahwa kita benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan, mereka akan lebih bersemangat untuk berbagi perasaan dan pikiran. Sebaliknya, kalau orangtua merendahkan gagasan anaknya atau "rajin" mengkritik kata-katanya, anak itu akan menarik diri dan memilih lebih dekat pada teman. Karenanya, jika ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, jadilah pendengar yang baik. Mereka akan menerima bila kita membantu mereka memecahkan masalah.

Tentukan harapan yang jelas

Memberitahukan anak apa yang kita harapkan darinya akan membentuk perilaku yang baik. Jangan ragu-ragu melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari dan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas di lingkungan rumah. Kebanyakan anak pasti akan mengeluh. Begitu pun kita harus berusaha agar mereka senang dilibatkan. Pada anak yang berperan serta dalam urusan rumah tangga, akan tumbuh etika kerja dan umumnya ia lebih merasa menjadi bagian dari keluarga.

Jangan membiarkan rasa bersalah

Banyak orangtua merasa bersalah karena bekerja seharian di luar rumah. Sebagai kompensasinya, mereka membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Orangtua yang baik adalah yang tegas. Merasa bersalah merupakan tindakan kontraproduktif.

Jangan menggantikan kasih sayang atau waktu dengan uang

Memang penting untuk mengajarkan anak-anak bagaimana mengelola uang, tetapi jangan gunakan uang sebagai pengganti waktu atau kasih sayang kita. Pesan materialistis di televisi mudah sekali merasuki anak dan membangkitkan keinginan mereka untuk membeli ini dan itu. Kita buat mereka untuk selalu berusaha bila ingin memperoleh sesuatu. Sesuatu yang diperoleh melalui bekerja akan lebih terasa nilainya.

Jangan terlalu sering gonta-ganti pengasuh 

Satu dari kebutuhan psikologis yang penting pada anak adalah bahwa ia terasuh dengan baik dan penuh kasih secara terus-menerus. Oleh karena itu kita memerlukan pengasuh. Dengan menggunakan pengasuh, kecemasan kita akan berkurang selama kita bekerja. Namun sebelum menyerahkan anak pada seorang pengasuh, berikanlah kesempatan untuk terciptanya keakraban dan kedekatan antara anak dan si calon pengasuh. Sering gonta-ganti pengasuh dapat membahayakan anak.

Kuncinya: pengawasan

Acap kali ketika ditinggalkan orangtua, anak terjerumus dalam masalah. Anak-anak tidak begitu saja tahu sejak lahir, mana perilaku baik, mana yang buruk. Mereka perlu diajari dan kemudian diawasi. Karenanya, sangatlah penting bagi orangtua untuk mengetahui di mana anaknya, sedang bersama siapa, dan sedang ngapain. Memang, anak sering mengeluh kalau ia diawasi ketat, tetapi anak-anak yang tidak diawasi juga sering merasa, orangtua tidak peduli dengan mereka.

Beri perhatian lebih saat ia baik

Kita cenderung lebih memperhatikan anak ketika mereka menjengkelkan. Sebaliknya, jauh lebih sulit untuk memperhatikan perilaku baik mreka. Jika ingin anak berperilaku baik, berilah perhatian pada hal-hal yang kita sukai dari mereka. Kalau anak merasa diabaikan, secara bawah sadar ia akan berperilaku salah untuk menarik perhatian kita. Memperhatikan mereka sewaktu mereka baik memang memerlukan usaha.

Hukuman itu untuk mendidik

Orangtua yang bekerja di luar rumah cenderung mengalami kelelahan dan mudah jengkel. Jangan pernah menghukum anak ketika kita sendiri tidak dapat mengontrol diri. Gunakan hukuman untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan kemarahan.

Berikan teladan dalam relasi

Anak belajar berelasi dari orangtua mereka. Mereka juga merasa paling aman jika melihat orangtua saling memperlakukan pasangannya dengan baik. Maka hal terbaik yang dapat kita lakukan bagi anak-anak adalah mencintai pasangan kita.

Sumber : intisari-online.com

16.33

Bila Si Kecil Tantrum

Kemaren siang tiba-tiba si kecil yang sedang main di rumah tetangga pulang ke rumah sambil gedor-gedor pintu. Dia berteriak, "Abi...! Dede ngggak boleh masuk ke rumah teteh..." belum sempet saya bertanya lebih lanjut, maka sekonyong-konyong meledaklah tangisan anak saya tersebut. Tangisan yang tak seperti biasanya;dengan intensitas suara yang tinggi dia menjerit-jerit, juga menjatuhkan diri di lantai dan berguling-guling. Saya yang berusaha untuk menenangkannya hampir kewalahan karena mau dipeluk pun ia berontak sambil melengkungkan tubuhnya berusaha melepaskan diri. Dan hal tersebut berlangsung cukup lama.

Mungkin di antara sobat sekalian yang sudah memiliki buah hati, pernah juga mengalami hal yang sama seperti pengalaman saya. Yups itulah yang namanya "temper tantrum" atau lebih dikenal dengan sebutan "tantrum" saja. Yakni ekspresi marah yang nyaris histeris; luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Manifestasi tantrum ini beragam, mulai dari (hanya) merengek dan menangis saja, menjerit-jerit, mengguling-gulingkan badan di lantai, menendang, memukul, mencakar, bahkan ada yang sampai beraksi menahan nafas. Tantrum sering muncul pada anak usia 1 hingga 3 tahun, meskipun tidak selalu berarti perilaku ini akan menghilang dengan sendirinya setelah anak mencapai usia 3 tahun. Biasanya, tantrum ini berlangsung selama 30 detik sampai 2 menit dan intensitas tertinggi terjadi pada 30 detik pertama.

Tantrum bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Tak peduli di rumah, dalam perjalanan ataupun ditengah keramaian. Tak ayal ini membuat orangtua lumayan kalang-kabut. Daripada bingung terus menerus- yang malah akan berujung stress- dengan perilaku ini, lebih baik kita sebagai orangtua menyisihkan waktu untuk sedikit mempelajari seluk beluk tantrum.

Anak mengalami tempertantrum ketika merasa frustasi. Frustasi karena banyak yang ingin dilakukan tetapi tidak bisa, berkomunikasi tidak nyambung, jadi biasanya diekspresikan dengan berteriak, menangis dan merajuk. 

Kalo anak sudah kumat seperti ini, sahabat tidak usah panik dan tetap bersifat suportif terhadap anak, tak perlu marah atau bahkan memukul (emang gampang sich kalo ngomong mah, kalo ngalamin sendiri kadang kesalnya minta ampun, terpaksa kita deh yang berteriak dalam hati atau ikut-ikutan berteriak pula hehe). Katanya lagi, anak belajar ngamuk dari orang-orang terdekat,nah loh. 

Mengapa Anak Tantrum?
Sesungguhnya tantrum adalah bagian dari perkembangan anak. Ini memang suatu fase normal yang dilalui oleh semua anak. Bahkan anak-anak yang paling baik sekalipun, sekali waktu juga pernah tantrum. Menurut pakar psikologi anak, temperamen anak juga mempengaruhi kecenderungan tantrum. Anak yang bertemperamen sulit cenderung mudah tantrum.

Sesekali, sebagai orangtua, kita perlu juga memandang dunia ini dari sudut pandang anak. Seiring dengan pertambahan umurnya, anak semakin memahami lingkungannya. Mereka tahu bahwa ada banyak sekali pilihan di sekelilingnya. Di mata anak, semuanya menarik sehingga mereka ingin memiliki atau menguasai semuanya. Tak seperti orang dewasa, anak-anak (batita dan balita) memiliki keterbatasan dalam mengendalikan maupun menyalurkan emosinya. Maka, ketika keinginannya tak terpenuhi, mereka menyalurkan rasa frustasinya lewat satu-satunya cara yang ia kuasai benar, tantrum! (seperti kasus anak saya di atas yang tidak boleh masuk ke rumah teman bermainnya... :) )
Memahami faktor-faktor pemicu tantrum adalah bekal orangtua untuk menyikapi perilaku ini dengan kepala dingin.

Tak mampu mengungkapkan keinginannya Umumnya anak usia batita memiliki keterbatasan bahasa. Tapi, meski kosakatanya belum banyak, anak usia 1 tahun telah memahami banyak hal, lho! Pemahamannya melebihi kemampuan verbalnya. Coba sahabat bayangkan, bagaimana jika orang yang sahabat ajak komunikasi tak kunjung mengerti maksud sahabat? Seperti itulah yang dirasakan si kecil. Biasanya, tantrum akan berkurang seiring dengan meningkatnya kemampuan bicara anak.

Terhalangnya keinginan untuk mandiri Anak usia batita mulai tumbuh rasa kemandiriannya. Mereka ingin dan merasa bisa melakukan berbagai hal yang dilakukan oleh orangtuanya. Ketika sahabat melarangnya, maka ia menyalurkan rasa frustasinya melalui tantrum.

Tak mampu menguasai/melakukan suatu hal Anak bisa frustasi karena tak berhasil melakukan sesuatu hal yang ia anggap mampu lakukan. Misalnya, tak berhasil membuka kancing bajunya sendiri, atau tak bisa membuka tutup botol.

Ditolak permintaannya ini yang sering terjadi di toko atau supermarket, ketika Anda tak mengabulkan permintaan anak.

Lelah, lapar dan/atau merasa tak nyaman anak cenderung mudah meledak ketika mereka merasa lelah, lapar atau tidak nyaman.

Mencari perhatian kadangkala anak tantrum untuk menarik perhatian orangtuanya. Dorothy Einon, seorang pakar perilaku anak di Inggris mengatakan, anak tidak akan tantrum dengan orang yang tidak ia cintai.

Suasana hatinya memang sedang buruk Bad mood bukan monopoli orang dewasa, anak batita juga bisa, lho! Bukan tak mungkin si kecil terbangun di pagi hari dengan suasana hati yang kurang baik, dan tetap seperti itu sepanjang hari. Kalau sudah begini, lebih baik Anda bersiap-siap jika sewaktu-waktu terjadi ledakan 

Berikut adalah tips yang sahabat bisa lakukan bila si kecil mengalami ledakan "tantrum" :
  1. Tetap tenang. Beri anak waktu menguasi diri nya sendiri
  2. Jangan hiraukan anak hingga dia bisa lebih tenang
  3. Lakukan apapun yang sedang anda lakukan selama masa tantrum berlangsung
  4. Jangan memukul atau melakukan hukuman fisik apapun
  5. Jangan menyerah pada tantrum anak, begitu menyerah mereka akan belajar mempergunakan perilaku tak pada tempatnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan
  6. Jangan menyuap anak dengan hadiah untuk menghentikantantrum. Anak-anak akan belajar bertindak tak semestinya untuk mendapatkanya
  7. Singkirkan barang-barang yang berpotensi bahaya dari jangkuan anak-anak

07.24

Manfaat Wisata Bagi Anak

Sahabat semua, kali ini saya akan mengulas manfaat wisata khususnya bagi tumbuh kembang buah hati kita tercinta. Momen yang tepat karena saat ini adalah musim liburan sekolah bagi anak-anak, semoga dengan tulisan ini liburan buahh hati kita menjadi liburan yang berkesan dan bermanfaat.

Hari senin kemarin 16 Des 2011, saya beserta istri dan anak kami "Maghfi", pergi liburan ke suatu tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Alhamdulillah kebetulan saat itu istri cuti bersama, dan juga saya mendapat jatah cuti tahunan yang belum di ambil. Selama ini kami jarang sekali pergi liburan bersama, karena sejak istri ngelanjutin kuliah, jatah libur hari sabtu nya dipake untuk masuk kuliah. Demikian juga saya, jatah libur sengaja dibikin beda dengan istri karena dipake buat ngasuh si kecil :), maklum di rumah nggak punya pengasuh. So,, kita gantian untuk ngasuh anak. Beruntung karena kami beda jam kerjanya, istri non shift/ kerja pagi terus (libur hari sabtu-minggu) sedang saya kerja shift (libur jumat-sabtu) jadi bisa disiasati agar anak bisa kepegang.

Jadi karena kemaren bisa libur bareng kami memutuskan untuk pergi wisata, sekalian sebagai hadiah bagi anak yang sudah beres menyelesaikan semester I di PAUD :) (meski kehadiran cuma 80%) tapi itu udah luar biasa bagi kami. Karena saat ini "maghfi" sedang keranjingan baju tidur "shaun the ship" bahkan ke PAUD pun maunya pake baju itu, he3. Makanya bolosnya lumayan sering.

Karena lagi musim hujan dan maghfi agak sedikit flu, kami memilih pergi ke "Rumah Sosis" yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah kami. Selain itu kami juga mendapat info dari rekan kerja yang udah pernah bawa anaknya & lihat-lihat brosurnya, maka kami pun mantap untuk memutuskan pergi ke sana.

Tempat wisata yang terletak di Jl.Setiabudi tersebut pada hari liburan sekolah lumayan rame pengunjungnya, karena berada di jalur Bandung-Lembang dan letaknya sangat dekat dengan jalan raya, menjadikan tempat tersebut mudah untuk dijangkau.

Tempatnya lumayan luas, juga berbagai wahana permainan buat anak tersedia baik yang indoor maupun out door. Yang indoor di antaranya : wahana sepeda,becak anak & otoped, wahana rumah pohon (di dalamnya berbagai macam mainan dari mulai ayunan, mandi bola, perosotan, jembatan goyang, jungkat-jungkit,dll) , wahana panjat tebing/fun climbing, wahana memanah/robin hood, trampoline. Yang out door : kolam renang, flying fox, flying fox extreme, naik kuda, perahu sosis, memancing ikan, high rope game, lorong sesat/ labirin, kereta, Play land, ATV/ mini motocross, dll

Setelah keliling keliling sebentar untuk melihat-lihat situasi, kami memilih untuk masuk wahana rumah pohon karena permainannya cukup komplit, selain itu satu tiket untuk anak sekaligus orang tua bisa masuk juga. Di tambah es krim gratis lumayan juga he3, trus kayaknya gak ada limit waktu jadi bisa sepuasnya.

Setelah itu lanjut ke wahana "perahu sosis" di sungai buatan dengan desian sedemikian rupa membuat "maghfi merengek-rengek" pengen naik. Ini dia aksi maghfi di "perahu sosis" nya, NUMBER ONE hehee. Meskipun gaya pake dayung, tetep aja majunya di dorong dorong sama "om" penjaga atau kesundul ama "sosis" yang melaju di belakangnya :)

Setelah jatah waktu habis, berhubung udah adzan dzuhur kita shalat dulu di mushola yang telah disediakan. Shalat berjamaah dzuhur ceritanya mah, tapi jamaah yang satu sambil kriuk-kriuk makan snack sambil lalu lalang di mushola. hehe. maghfi.maghfi.

Beres sholat ketemulah dengan kuda yang sedang pipis wuih si kuda yang sedang istirahat tersebut mungkin lagi kebelet, ngak nyari WC dulu, langsung aja pipis di depan umum. Jadi tontonan yang menarik karena selain bermuatan pornografi, ternyata wuihhh pipis nya buannnnyak banget ada mungkin 5 liter kira-kira. Membuat Maghfi terkagum-kagum atau mungkin terkaget-kaget tepatnya. hahaha . Karena terkesan dengan kuda maka Maghfi pun meringik ringik eh merengak-rengek minta naik kuda.

Nah lho kok panjang bangets ya prolognya, jangan-jangan sahabat nyangka saya marketingnya "Rumah Sosis". Tenang-tenang ane gak ade hubungan apapun tuch, sumpeh!!?? :)

Berwisata selain untuk menikmati keceriaan bersama seluruh anggota keluarga. Dengan berwisata pula kita bisa sejenak melupakan kegiatan sehari hari yang menoton atau pekerjaan kantor yang menumpuk. Meski kadang memerlukan biaya yang cukup besar (tidak selalu sich..) namun tidak sebanding dengan kepuasan batin yang kita dapatkan.

Selain itu jalan-jalan/ berwisata juga bermanfaat untuk anak-anak dalam masa pertumbuhannya. Manfaat wisata bagi anak diantaranya adalah : 
Melatih Anak Untuk Disiplin
Misalnya kita mengajarkan anak untuk disiplin dalam hal mengantre di tempat bermain dengan tidak asal serobot, disiplin untuk buang sampah pada tempatnya sambil di beri pengertian akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan
Belajar Komunikasi dan Berbahasa
Karena pada saat berjalan-jalan kita akan bertemu orang selain diluar rumah. Anak-anak akan lebih berani untuk berkomunikasi dengan orang baru dan juga mengetahui perbedaan-perbedaan cara berkomunikasi. Mereka akan menyadari bahwa dunia ini terdiri dari berbagai macam jenis bahasa.
Belajar Geografi
Geografi adalah ilmu mengenai kehidupan. Percaya atau tidak, ilmu ini sangat penting diajarkan untuk anak-anak. Kita bisa mengajarkan tentang pemahaman lintas budaya dan negara dan ilmu fenomena bumi seperti cuaca, iklim, geofisika dan bencana alam.
Belajar Menghargai Perbedaan
Dekat kaitannya dengan belajar geografi yang kita ajarkan pada anak. Selama perjalanan kita pasti akan menemukan berbagai macam ras dan suku bangsa. Hal ini bisa kita jelaskan bahwa kita tidak bisa hidup sendirian dan membutuhkan bantuan orang lain, tak peduli dari mana mereka berasal. Dengan menjelaskan ini, nantinya akan terus dibawa sampai mereka dewasa dalam menghargai perbedaan.
Menyerap Nilai-Nilai Kehidupan
Dengan berjalan-jalan, orang tua bisa menunjukkan secara langsung kepada anaknya tentang bagaimana manusia menjalani hidup dan apa kenyataan yang terjadi di sekitar masyakarat yang dikunjunginya. Disela-sela perjalanan juga bisa berdiskusi mengenai suatu interaksi atau fenomena tertentu, dan ini merupakan salah satu waktu berkualitas (quality time) dengan anak-anak.
Menjauhkan dari Konsumsi Materialistis
Bedakan antara anak-anak yang sering diajak jalan-jalan dengan yang sering diberi mainan. Anak-anak yang sering dibawa bepergian akan faham akan pentingnya pengalaman, menikmatinya dan akn terus mencari pengalaman yang baru, berbeda dengan anak yang hanya diberi mainan yang akan mudah cepat lupa dengan mainannya karena merasa bosan.
Belajar Arti dari Tanggungjawab
Jika kita menginkutsertakan anak-anak dalam merencanakan dan mempersiapkan perjalanan, maka anak-anak akan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri. Misalnya apa yang perlu mereka bawa dan yang tidak. Dengan begini mereka akan bertanggung jawab terhadap pilihan mereka sendiri.


Selamat berwisata sahabat...