Tampilkan postingan dengan label Askep Medikal Bedah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askep Medikal Bedah. Tampilkan semua postingan
06.12

Askep TBC

Setelah postingan terdahulu tentang penyakit TBC. Kali ini saya akan memposting tentang Askep Pada Pasien Dengan TBC.

Tuberkulosis adalah penyakit yang dapat menyebar dengan mudah tanpa tindakan pencegahan yang tepat. Perawatan yang memadai dari pasien TBC sangatlah penting untuk mencegah penyebarannya.

Tuberkulosis atau TBC disebabkan oleh bakteri dan merupakan penyakit menular. Hal ini ditularkan dari orang ke orang melalui udara. Meskipun lebih sering yang terkena adalah paru-paru, namun TBC juga dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh. Gejala TBC meliputi:
  • kelelahan
  • anoreksia
  • demam ringan
  • keringat malam
  • demam dan menggigil
  • batuk
  • dan nyeri dada
Pasien dengan TBC menunjukkan tanda-tanda dan gejala tertentu. Selama pengkajian keperawatan, perawat mencoba untuk mencari data-data berikut ini:
  • apakah pasien telah memiliki riwayat kontak dengan seseorang yang memiliki TB;
  • apakah pasien memiliki gejala TBC dengan mengajukan pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik. apakah ada tanda-tanda batuk produktif, keringat malam, peningkatan suhu pada siang hari, penurunan berat badan dan nyeri dada. Lakukan auskultasi paru-paru pasien untuk mendengar bunyi pernapasan yang abnormal.
  • Jika pasien sudah menjalankan terapi obat untuk TBC, perawat menilai tanda-tanda kelainan hati seperti kelelahan, nyeri sendi, demam, nyeri di daerah hati, tinja berwarna tanah liat, urin berwarna gelap, perubahan visi, dan kehilangan rasa di tangan dan kaki. Pantau pula tes fungsi hati  laboratorium  pasien.
Diagnosa Keperawatan Untuk Tuberkulosis
Diagnosis keperawatan adalah pernyataan yang menggambarkan respon pasien terhadap masalah medis yang dalam hal ini adalah tuberkulosis. Diagnosis keperawatan untuk pasien dengan TBC adalah sebagai berikut:
  • risiko infeksi yang berhubungan dengan penyakit TBC paru
  • pola pernapasan tidak efektif berhubungan dengan penurunan volume paru-paru dan infeksi paru
  • tidak efektifnya regimen terapeutik berhubungan dengan pengobatan jangka panjang dan kurangnya motivasi
  • gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan, kurang nafsu makan, dan batuk produktif.
Intervensi Keperawatan untuk Risiko Infeksi
Tujuan : untuk mengurangi resiko penyebaran TBC dan memastikan pasien tuberkulosis secara efektif diobati.  
Intervensi Keperawatan :
  • Ajarkan pasien tentang sifat menular tuberkulosis dan kebutuhan untuk mencegah penyebarannya.
  • Tempatkan pasien di ruangan tekanan negatif dan dalam kamar pribadi.
  • Semua perawat dan pengunjung memasuki ruang pasien harus memakai masker N-95.
  • Kenakan masker pada pasien selama transportasi ke departemen lain.
  • Biarkan pintu  ruang pasien untuk selalu tertutup dan berikan tanda isolasi di lokasi yang terlihat dekat pintu.
  • Gunakan kewaspadaan standar saat memberikan pelayanan langsung kepada pasien. Ini termasuk memakai sarung tangan, baju dan mencuci tangan yang efektif.
  • Ajarkan pasien bagaimana untuk menghindari penyebaran penyakit melalui bersin atau batuk dan anjurkan untuk menggunakan tissue bukan dengan tangan kosong, mencuci tangan mereka setelahnya dan membuang tissue belas ke dalam kantong plastik tertutup.
  • Ajarkan pasien tuberkulosis untuk tinggal di daerah berventilasi baik dan membatasi kontak dengan orang lain sementara ia masih mampu menyebarkan infeksi.
Intervensi Keperawatan  untuk Pola Pernapasan yang tidak efektif
Pasien dengan TBC mungkin perlu bekerja lebih keras untuk bernapas karena batuk, atau demam tinggi. Pola pernapasan tidak efektif meliputi frekuensi nafas yang lebih cepat atau lebih lambat, penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan denyut jantung. 

Intervensi Keperawatan :
  • Berikan oksigen sesuai advis dokter
  • Berikan hidrasi yang adekuat untuk melonggarkan sekret agar lebih mudah dikeluarkan dari paru-paru
  • Posisikan pasien dalam posisi fowlers tinggi untuk mengurangi kerja yang diperlukan untuk bernapas.
  • Dorong dan memberikan waktu istirahat sehingga pasien tuberkulosis dapat memiliki energi untuk bernapas.
Intervensi Keperawatan untuk gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan, kurang nafsu makan, dan batuk produktif.
Nutrisi yang tepat diperlukan untuk tubuh untuk menyembuhkan dan melawan infeksi. 
  • jelaskan pentingnya makanan bergizi, 
  • pantau berat badan pasien untuk perbaikan atau pemeliharaan, 
  • beriakan suplemen vitamin seperti yang ditentukan  
  • sediakan makan porsi kecil tapi sering
Intervensi Keperawatan untuk diagnosa tidak efektifnya regimen terapeutik berhubungan dengan pengobatan jangka panjang dan kurangnya motivasi
Hal ini penting bagi pasien TB untuk menebus dan meminum obat yang diresepkan. Kegagalan untuk melakukan hal ini dapat menyebabkan resisten terhadap obat tuberkulosis. Hal ini akan membuat pasien TBC sulit disembuhkan. Untuk meningkatkan kepatuhan terhadap rejimen obat untuk TB yang bisa sangat panjang, perawat melakukan berikut ini:
  • mengajarkan pasien tentang pentingnya mengambil semua obat yang diresepkan karena bakteri yang menyebabkan TBC tumbuh lambat dan membutuhkan waktu lama untuk dihilangkan.
  • menjelaskan tentang efek samping yang mungkin timbul dari obat TB sehingga mereka tahu kapan harus mencari perawatan dokter dan kapan tidak perlu khawatir.
  • anjurkan untuk menunjuk seorang pendamping terapi yang melakuakn pengamatan langsung, di mana seseorang akan melihat pasien TBC mengambil dan meminum obat mereka seperti seharusnya.

Jika semua tujuan perawatan untuk manajemen keperawatan tuberkulosis terpenuhi, pasien TB harus bebas dari demam dan bisa bernapas dengan normal, memiliki pengetahuan dan strategi pencegahan infeksi yang baik, menjaga berat badan nya dan mengambil serta meminum semua obat yang diresepkan.


16.42

Askep Batu Ginjal

Setelah postingan kemarin membahas Tentang Batu Ginjal dari konsep medis sekarang saya akan memposting tentang Askep pada klien dengan batu ginjal.

FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah
1. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
- Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk
- Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi
- Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera serebrovaskuler, tirah baring lama)
2. Sirkulasi
Tanda:
- Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)
- Kulit hangat dan kemerahan atau pucat
3. Eliminasi
Gejala:
- Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya
- Penrunan volume urine
- Rasa terbakar, dorongan berkemih
- Diare
Tanda:
- Oliguria, hematuria, piouria
- Perubahan pola berkemih
4. Makanan dan cairan:
Gejala:
- Mual/muntah, nyeri tekan abdomen
- Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat
- Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup
Tanda:
- Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus
- Muntah
5. Nyeri dan kenyamanan:
Gejala:
- Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu ginjal menimbulkan nyeri dangkal konstan)
Tanda:
- Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi
- Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit
6. Keamanan:
Gejala:
- Penggunaan alkohol
- Demam/menggigil
7. Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:
- Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis
- Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme
- Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.

Tes Diagnostik
Lihat konsep medis.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema dan iskemia seluler.
2. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
3. Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema dan iskemia seluler.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Catat lokasi, lamanya/intensitas nyeri (skala 1-10) dan penyebarannya. Perhatiakn tanda non verbal seperti: peningkatan TD dan DN, gelisah, meringis, merintih, menggelepar.
2. Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan kepada staf perawatan setiap perubahan karakteristik nyeri yang terjadi.
3. Lakukan tindakan yang mendukung kenyamanan (seperti masase ringan/kompres hangat pada punggung, lingkungan yang tenang)
4. Bantu/dorong pernapasan dalam, bimbingan imajinasi dan aktivitas terapeutik.
5. Batu/dorong peningkatan aktivitas (ambulasi aktif) sesuai indikasi disertai asupan cairan sedikitnya 3-4 liter perhari dalam batas toleransi jantung.
6. Perhatikan peningkatan/menetapnya keluhan nyeri abdomen.
7. Kolaborasi pemberian obat sesuai program terapi:
- Analgetik
- Antispasmodik
- Kortikosteroid
8. Pertahankan patensi kateter urine bila diperlukan.
Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
INTERVENSI KEPERAWATAN 
1. Awasi asupan dan haluaran, karakteristik urine, catat adanya keluaran batu.
2. Tentukan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi yang terjadi.
3. Dorong peningkatan asupan cairan.
4. Observasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran.
5. Pantau hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, BUN, kreatinin)
6. Berikan obat sesuai indikasi:
- Asetazolamid (Diamox), Alupurinol (Ziloprim)
- Hidroklorotiazid (Esidrix, Hidroiuril), Klortalidon (Higroton)
- Amonium klorida, kalium atau natrium fosfat (Sal-Hepatika)
- Agen antigout mis: Alupurinol (Ziloprim)
- Antibiotika
- Natrium bikarbonat
- Asam askorbat
7. Pertahankan patensi kateter tak menetap (uereteral, uretral atau nefrostomi).
8. Irigasi dengan larutan asam atau alkali sesuai indikasi.
9. Siapkan klien dan bantu prosedur endoskopi.
Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Awasi asupan dan haluaran
2. Catat insiden dan karakteristik muntah, diare.
3. Tingkatkan asupan cairan 3-4 liter/hari.
4. Awasi tanda vital.
5. Timbang berat badan setiap hari.
6. Kolaborasi pemeriksaan HB/Ht dan elektrolit.
7. Berikan cairan infus sesuai program terapi.
8. Kolaborasi pemberian diet sesuai keadaan klien.
9. Berikan obat sesuai program terapi (antiemetik misalnya Proklorperasin/ Campazin).
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL
1. Tekankan pentingnya memperta-hankan asupan hidrasi 3-4 liter/hari.
2. Kaji ulang program diet sesuai indikasi.
- Diet rendah purin
- Diet rendah kalsium
- Diet rendah oksalat
- Diet rendah kalsium/fosfat
3. Diskusikan program obat-obatan, hindari obat yang dijual bebas.
4. Jelaskan tentang tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik (nyeri berulang, hematuria, oliguria)
5. Tunjukkan perawatan yang tepat terhadap luka insisi dan kateter bila ada.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta
Purnomo, BB ( 2000), Dasar-dasar Urologi, Sagung Seto, Jakarta
Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.

18.28

Askep Hipertensi

Sahabat setelah beberapa waktu yang lalu memposting tentang Asuhan keperawatan pada pasien dengan ventilator kali ini saya memposting tentang Asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi mudah-mudahan bisa bermanfaat.

Hipertensi ( tekanan darah tinggi ) merupakan masalah kesehatan yang paling banyak dialami oleh orang dewasa dan merupakan faktor risiko untuk terjadinya gangguan kardiovaskular. Hipertensi adalah tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg selama periode yang berkelanjutan, berdasarkan rata-rata dari dua atau lebih pengukuran tekanan darah.

Ada dua jenis hipertensi yakni hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak dapat diidentifikasi penyebabnya. Juga dikenal sebagai hipertensi esensial. Pada beberapa pasien dengan hipertensi primer, ada kecenderungan turun-temurun yang kuat.

Jenis hipertensi yang kedua yaitu hipertensi sekunder atau hipertensi maligna adalah istilah yang digunakan untuk penyakit tekanan darah tinggi yang penyebabnya dapat diidentifikasi. Hipertensi jenis ini biasanya disebabkan oleh terjadinya masalah di organ lain misalnya masalah di ginjal; stenosis arteri renalis.

Penyebab Hipertensi
Meskipun penyebab yang tepat untuk sebagian besar kasus hipertensi tidak dapat diidentifikasi, dapat dipahami bahwa hipertensi adalah kondisi multifaktorial. Karena hipertensi adalah suatu tanda/ sign, kemungkinan besar memiliki banyak penyebab, seperti halnya demam yang juga memiliki banyak penyebab. Terjadinya hipertensi biasanya karena adanya perubahan dalam satu atau lebih faktor-faktor yang mempengaruhi resistensi perifer atau cardiac output. Selain itu, juga adanya masalah dengan sistem kontrol/regulasi yang memantau atau mengatur tekanan darah.
  • Primer hipertensi atau hipertensi esensial (90% sampai 95% Kasus) menyebabkan Precise diketahui
  • Hipertensi sekunder atau penyebab hipertensi maligna oleh:
GINJAL: glomerulonefritis akut, penyakit ginjal kronis, penyakit polikistik, stenosis arteri ginjal, vaskulitis ginjal, tumor yang memproduksi renin.
KARDIOVASKULAR: Koarktasio aorta, Peningkatan volume intravaskular, peningkatan cardiac output, Kekakuan aorta;atherosklerosis aorta
ENDOKRIN: hyperfunction adrenocortical, misalnya hormon eksogen (glukokortikoid, estrogen termasuk penggunaan kontrasepsi oral,), pheochromocytoma, Hipotiroidisme, Hipertiroidisme, Hipertensi dalam masa kehamilan
NEUROLOGIS: psikogenik, Peningkatan tekanan intrakranial, Sleep apnea, stres akut, termasuk operasi

Komplikasi Hipertensi
Hipertensi merupakan penyebab utama terjadinya stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Komplikasi biasanya terjadi secara lambat dan dapat menyerang berbagai sistem organ.

Komplikasi terhadap organ jantung diantaranya :
  • Penyakit arteri koroner (CAD)
  • Angina pektoris
  • Infark miokard
  • Gagal jantung
  • Aritmia
  • Kematian mendadak
Komplikasi neurologis:
  • Infark Cerebri / stroke infark
  • Ensefalopati hipertensi dapat menyebabkan kebutaan.
  • Renovaskular hipertensi dapat menyebabkan gagal ginjal
Pengobatan Hipertensi
Terapi farmakologis, pengaturan diet dan modifikasi gaya hidup dapat mengendalikan hipertensi. Pedoman saat ini untuk mengobati hipertensi sebagai langkah pertama yang direkomendasikan adalah modifikasi  gaya hidup yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas fisik dan penurunan berat badan pada kebanyakan pasien. Sayangnya, banyak pasien tidak mampu untuk menurunkan berat badan, dan dengan demikian pengobatan farmakologis dengan obat antihipertensi harus dimulai.

Dua kelas obat yang umum digunakan untuk mengobati hipertensi:
   Vasodilator,obat yang meningkatkan aliran darah ginjal
   Natriuretik atau diuretik, obat yang menurunkan reabsorpsi tubular garam dan air.

Pengkajian Keperawatan
Riwayat kesehatan
Riwayat anggota keluarga dengan hipertensi
Riwayat hipertensi sebelumnya yang pernah dialami
Kebiasaan dan diet asupan garam
Riwayat penyakit lain yang dapat menempatkan pasien dalam kelompok berisiko tinggi; diabetes, CAD, penyakit ginjal
Merokok
Episode sakit kepala, kelemahan, kram otot, kesemutan, jantung berdebar, berkeringat, gangguan penglihatan
Penggunaan Obat yang dapat meningkatkan Tekanan Darah:
     Kontrasepsi hormonal, steroid
     NSAID
     Nasal dekongestan, penekan nafsu makan, antidepresan trisiklik
Proses penyakit lainnya, seperti asam urat, migrain, asma, gagal jantung, dan hiperplasia prostat jinak, yang dapat dibantu atau diperburuk oleh obat hipertensi tertentu.

Pemeriksaan fisik
  • Auskultasi denyut jantung dan palpasi nadi perifer; pernapasan.
  • Jika kompeten dalam melakukannya, melakukan pemeriksaan funduskopi mata untuk tujuan mengkaji adanya perubahan vaskular. Carilah edema, spasme, dan perdarahan dari pembuluh mata. Rujuk ke dokter mata untuk diagnosis definitif.
  • Periksa jantung untuk pergeseran dari titik impuls maksimal ke kiri, yang terjadi pada pembesaran jantung.
  • Auskultasi bising/bruits dari arteri perifer untuk menentukan adanya aterosklerosis, yang dapat dimanifestasikan sebagai aliran darah yang terhambat.
  • Menentukan status mental dengan mengkaji pasien tentang ingatan/ memori, kemampuan untuk berkonsentrasi, dan kemampuan untuk melakukan perhitungan matematika sederhana.
  • Pengukuran Tekanan Darah; Auskultasi dan mengukur dan mencatat dengan tepat tekanan sistolik dan diastolik pasien.
Diagnosis keperawatan yang biasa ditemukan pada pasien dengan hipertensi
  1. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit,pengobatan dan pengendaliannya 
  2. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif berhubungan dengan efek obat yang merugikan dan penyesuaian gaya hidup yang sulit
  3. Kurangnya (modifikasi gaya hidup)
  4. Kelelahan
  5. Ketidakefektifan koping
  6. Perfusi jaringan yang tidak efektif: Cardiopulmonary
  7. Ketidakpatuhan: regimen terapeutik
  8. Risiko untuk cedera
Tujuan dan kriteria hasil
Pasien dengan hipertensi :
  • Bebas dari komplikasi.
  • Dapat Mengidentifikasi pilihan makanan yang tepat.
  • Mengungkapkan bahwa ia memiliki lebih banyak energi.
  • Menjaga cardiac output yang memadai dan stabilitas hemodinamik.
  • Menunjukkan perilaku koping adaptif
  • Mematuhi rejimen terapinya.
  • Menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang tekanan darah tinggi, efek obat, dan aktivitas terapi yang diresepkan
  • Membawa obat-obatan, membuat janji untuk tindak lanjut
Intervensi keperawatan untuk Hipertensi dengan diagnosis keperawatan; Kekurangan Pengetahuan tentang hubungan antara rejimen pengobatan dan pengendalian dari proses penyakit    
Intervensi Keperawatan : Memberikan penkes (health education):
  • Jelaskan arti dari tekanan darah tinggi, faktor risiko
  • Jelaskan pengaruh tekanan darah tinggi pada sistem kardiovaskular, otak, dan ginjal.
  • Menekankan Hipertensi yang tidak pernah bisa sembuh total tapi hanya bisa mengendalikan, menekankan konsekuensi dari hipertensi yang tidak terkontrol.
  • Menekankan fakta bahwa mungkin tidak ada korelasi antara tekanan darah tinggi dan gejala, pasien tidak bisa tahu dari cara dia merasakan apakah tekanan darah normal atau meningkat.
  • Apakah pasien menyadari bahwa hipertensi kronis dan membutuhkan terapi gigih dan evaluasi berkala.
  • Memberitahukan pasien arti dari kegiatan diagnostik dan terapeutik untuk meminimalkan berbagai kecemasan dan untuk mendapatkan kerjasama.
  • Meminta bantuan dari pasangan pasien, keluarga, dan teman-teman memberikan informasi mengenai rencana pengobatan total.
  • Rencanakan pengembangan modifikasi makanan untuk pasien tertentu.
  • Jelaskan kontrol farmakologis hipertensi.
  • Jelaskan bahwa obat yang digunakan untuk kontrol yang efektif dari tekanan darah tinggi mungkin akan menghasilkan efek yang merugikan.
  • Memperingatkan pasien kemungkinan bahwa hipotensi ortostatik mungkin terjadi awalnya dengan beberapa terapi obat: Anjurkan pasien untuk bangun perlahan untuk mengimbangi perasaan pusing, Dorong pasien untuk duduk atau berbaring segera jika ia merasa lemah
  • Pemberitahuan pasien untuk mengharapkan efek awal, seperti anoreksia, pusing, dan kelelahan, dengan banyak obat.
  • Beritahu pasien bahwa tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan tekanan darah, mengurangi kemungkinan komplikasi, dan menggunakan jumlah minimum obat dengan dosis terendah yang diperlukan untuk mencapai hal ini.
  • Mendidik pasien untuk menyadari efek samping yang serius dan laporan mereka segera sehingga penyesuaian dapat dibuat dalam farmakoterapi individu.
  • Perhatikan bahwa dosis yang individual, sehingga mereka mungkin perlu disesuaikan karena sering tidak mungkin untuk memprediksi reaksi.
  • Peringatkan pasien dengan obat vasodilatasi untuk berhati-hati dalam situasi tertentu yang menghasilkan vasodilatasi mandi air panas, cuaca panas, penyakit demam, konsumsi alkohol yang dapat memperburuk penurunan tekanan darah.
  • Peringatkan pasien bahwa tekanan darah sering menurun ketika volume sirkulasi darah berkurang seperti pada dehidrasi, diare, dan perdarahan sehingga tekanan darah harus dipantau secara ketat dan pengobatan disesuaikan.