Tampilkan postingan dengan label Artikel Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Penyakit. Tampilkan semua postingan
20.28

Kenali Hipertensi Sejak Dini


Gejala hipertensi termasuk sulit untuk dideteksi tak heran penyakit dikenal pula dengan the silent killer, bahkan menurut data dari WHO hanya sekitar 10% dari seluruh penderita hipertensi yang diketahui penyebabnya sedangkan 90% lainnya tidak diketahui asal muasalnya. Pada umumnya hipertensi ditandai dengan peningkatan resistensi aliran darah ke seluruh tubuh. Data dari American Heart Association (AHA) menunjukkan bahwa di Amerika 74,5 juta jiwa penduduk dengan usia di atas 20 tahun yang mengidap hipertensi.

Untuk itu kita harus mengetahui tanda-tanda pada tubuh kita akan datangnya hipertensi meskipun tanda sekecil apapun itu perlu kita waspadai mengingat bahaya yang ditimbulkan akibat komplikasi hipertensi. Dan berikut ini adalah beberapa tanda yang perlu anda waspadi jika muncul pada tubuh anda.

Pembesaran ventrikel kiri. Ventrikel kiri adalah ruang jantung yang memiliki tanggung jawab untuk memompa darah keseluruh tubuh. Seorang yang ventrikel kirinya membesar maka kemungkinan besar orang tersebut menderita hipertensi, atau sebaliknya. Hal ini disebabkan karena saat hipertensi, kerja jantung dipaksa untuk bekerja keras sehingga menyebabkan rongga jantung kiri membesar dan kaku yang biasa disebut dengan kondisi hipertrofi ventrikel kiri.

Funsi arteri menurun. Fungsi arteri yang menurun dan berubahnya struktur pembuluh darah merupakan salah satu gejala hipertensi. Hal ini membuat gejala dan tanda-tanda hipertensi sulit terdeteksi sejak dini, disebut juga dengan arteriosklerosis.

Namun gejala-gejala di atas tentu saja hanya bisa dilihat oleh ahli medis atau dokter, kita sebagai orang awam tidak pernah mengetahui apakah ventrikel kiri kita membesar atau tidak. Namun sebagai orang awam kita dapat melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh maupun kondisi kesehatan kita seperti misalnya pusing atau sakit kepala, sering gelisah, wajah merah, tengkuk terasa pegal, mudah marah, telinga berdenggung, susah tidur, sesak napas, mudah lelah, mata berkunang-kunang, dan mimisan. Tanda-tanda tersebut bisa saja terjadi pada orang yang bukan penderita hipertensi, namun sebaiknya jika anda mengalami hal-hal di atas segera periksakan ke dokter agar sejak dini mengetahui penyakit apa yang sedang menyerang anda sehingga anda tidak terlambat untuk menanganinya.

Pandangan menjadi kabur juga merupakan salah satu dari gejala hipertensi yang bisa kita kenali. Hal ini terjadi karena hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada otak, mata, jantung, dan ginjal. Bahkan pada kondisi yang parah, hipertensi dapat menyebabkan koma karena pembengkakan pada otak atau disebut dengan ensefalopati.

Sebaiknya anda selalu melakukan cek up tekanan darah secara berkala. Jika tidak ingin menghabiskan banyak uang dan waktu untuk pergi ke dokter hanya untuk cek tekanan darah, anda bisa membeli sendiri alatnya di apotek dengan harga sekitar Rp300rb-400rb-an. Anda bisa membeli yang tipe otomatis yang memang diperuntukkan penggunakannya bagi orang awam.

Penyakit yang masuk dalam daftar silent killer ini tidak mengenal batas usia, semua orang di semua usia mempunyai peluang untuk terjangkit penyakit ini. Untuk itu mendeteksi gejala-gejala hipertensi sejak dini sangat kita perlukan.

Demikian artikel tentang ciri-ciri dan tanda-tanda munculnya hipertensi ini semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Mohon jika ada yang salah untuk dikoreksi, atau jika ingin menambahkan silahkan melalui kolom komentar.

 

20.03

Asma Pada Anak

Asma adalah gangguan yang disebabkan oleh peradangan pada saluran nafas (disebut bronkus) yang mengarah ke paru-paru. Peradangan ini menyebabkan saluran nafas menjadi mengencang dan menyempit, sehingga menghambat aliran udara ke dalam paru-paru, dan menyebabkan penderita sulit untuk bernapas. Gejalanya meliputi mengi, sesak napas, sesak dada, dan batuk terutama pada malam hari atau setelah latihan / kegiatan. 

Peradangan membuat saluran nafas menjadi sangat sensitif, terutama ketika paru-paru terkena paparan seperti infeksi virus, alergen, udara dingin, paparan asap, dan berolahraga. Hal-hal yang memicu asma berbeda dari orang ke orang. Beberapa pemicu yang sering menimbulkan serangan asma adalah latihan/ olahraga, alergi, infeksi virus, dan asap. Ketika seseorang dengan asma terkena pemicu, saluran udara mereka yang sensitif menjadi meradang, membengkak, dan berisi dengan lendir. Selain itu, otot-otot yang melapisi saluran udara bengkak mengencang dan menyempit, atau bisa juga sampai memblokir. Sehingga serangan asma pun bisa lebih berat.

Jadi asma timbul dengan disebabkan oleh tiga perubahan penting dalam saluran napas yang membuat bernapas menjadi lebih sulit:
  • Radang saluran napas
  • Produksi lendir yang berlebih yang menyebabkan jualan nafas terhalangi
  • Saluran udara menyempit atau bronkokonstriksi 
Siapapun dapat memiliki asma, termasuk bayi, anak dan remaja. Terjadinya penyakit asma pada seseorang sering diwariskan, dengan kata lain, asma dapat lebih sering terjadi pada keluarga tertentu. Selain itu, faktor lingkungan tertentu, seperti infeksi virus khusus infeksi virus pernapasan atau rhinovirus, dapat membawa timbulnya asma. 

Kejadian asma pada anak meningkat dua kali lipat pada anak-anak yang dititipkan pada tempat penitipan anak (day-care) pada tahun pertama kehidupan mereka, dibandingkan dengan anak yang tidak dititipkan pada tempat penitipan anak. Faktor lingkungan lainnya, seperti terpapar asap, alergen, emisi mobil, dan polusi lingkungan, telah dihubungkan dengan asma.


Apa yang membuat seorang anak lebih mungkin terserang asma?

Ada banyak faktor risiko untuk terjadinya asma pada anak, diantaranya :
  • Adanya alergi
  • Keluarga riwayat asma dan / atau alergi
  • Sering infeksi pernapasan
  • Berat Badan lahir rendah
  • Paparan asap rokok sebelum dan / atau setelah lahir
  • Jenis kelamin laki-laki
  • Dibesarkan dalam lingkungan berpenghasilan rendah

Mengapa anak-anak lebih rentan untuk menderita penyakit asma?
Tidak ada yang tahu mengapa anak-anak semakin banyak yang menderita penyakit asma. Beberapa ahli menyatakan bahwa anak-anak yang terkena alergen yang terus menerus dan berlebih seperti debu, polusi udara, dan perokok pasif bisa meningkatkan terjadinya/ pemicu asma pada anak. Lainnya menduga bahwa anak-anak yang tidak terkena penyakit anak-anak yang cukup pada mereka untuk membangun sistem kekebalan tubuh mereka.Tampaknya gangguan dari sistem kekebalan tubuh di mana tubuh gagal untuk membuat antibodi protektif cukup mungkin memainkan peran dalam menyebabkan asma.

Dan yang lain menunjukkan bahwa tingkat penurunan menyusui telah mencegah zat penting dari sistem kekebalan tubuh dari ibu yang diteruskan kepada bayi.

Bagaimana saya bisa tahu jika anak saya menderita asma?
Tanda dan gejala yang sering timbul :
  • Sering batuk, yang mungkin terjadi selama bermain, di malam hari, atau saat tertawa. 
  • Kurang energi saat bermain
  • Nafas Cepat
  • Keluhan sesak dada atau sakit dada
  • Suara mengi saat bernapas
  • Gerakan gergaji (retraksi) di dada pada saat sesak nafas
  • Sesak napas, susah bernafas
  • Memperketat otot-otot leher dan dada
  • Perasaan kelemahan atau kelelahan
  • Lingkaran gelap di bawah mata
  • Sering sakit kepala
  • Kehilangan nafsu makan
Perlu diingat bahwa tidak semua anak memiliki gejala asma yang sama, dan gejala ini dapat bervariasi dari episode asma untuk episode berikutnya pada anak yang sama. Juga dicatat bahwa tidak semua mengi atau batuk disebabkan oleh asma.

Pada anak-anak di bawah usia 5 tahun, penyebab paling umum dari asma seperti gejala atas infeksi virus pernapasan seperti flu biasa .

Jika anak Anda memiliki masalah pernapasan, bawa dia ke dokter segera untuk evaluasi.


23.25

Bronkopneumonia



Setelah postingan terdahulu mengenai Penyakit Prostat, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk memposting tentang Penyakit Bronkopneumonia.

Apa itu Bronkopneumonia ?

Bronkopneumonia adalah peradangan yang umum terjadi di paru-paru, juga disebut sebagai pneumonia bronkial, atau pneumonia lobular. Peradangan dimulai di saluran bronkial kecil (bronkiolus), dan secara tidak teratur menyebar ke alveoli peribronchiolar dan saluran alveolar. Inflamasi/ peradangan mengarah pada konsolidasi inflamasi lokal di bronkiolus serta alveoli dan sekitarnya dari paru-paru.

Penyebab Bronkopneumonia 

Sebagian besar broncho-pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama bakteri piogenik yang menimbulkan pneumonia supuratif. Adenovirus, virus influenza, Mycoplasma pneumoniae juga memainkan peran.

Bronkopneumonia sering terjadi pada manusia yang memiliki daya tahan tubuh rendah dan yang memiliki gangguan fungsi pertahanan saluran pernapasan. Jadi, anak-anak, orang tua dan orang sakit-sakitan atau lemah adalah populasi utama yang rentan terjangkit bronkopneumonia.

Bronkopneumonia adalah pneumonia yang paling umum pada anak.

Gejala Bronkopneumonia

Bronkopneumonia sering terjadi sekunder dari beberapa penyakit lain, seperti tracheobronchitis, bronkiektasis, emfisema, infeksi virus saluran pernapasan bagian atas, dan tirah baring lama di tempat tidur karena sakit parah. Jadi, beberapa gejala penyakit utama dengan mudah dapat menutupi gejala bronkopneumonia ini.
  • Batuk dan batuk berdahak keduanya gejala utama bronkopneumonia
  • Memiliki demam dan sesak napas
  • Bronkopneumonia parah akan menyebabkan masalah dalam sirkulasi darah, saraf, pencernaan dan sebagainya.
Pengobatan Bronkopneumonia 

Tindakan berikut ini biasanya efektif untuk setiap bronchitis dan pneumonia, seperti membersihkan udara dalam ruangan, istirahat di tempat tidur, makanan dan asupan cairan yang cukup, suplemen, latihan pernapasan.

Analgesik antipiretik adalah untuk demam. Jika pasien dengan sputum produktif, agen ekspektoran akan diberikan untuk mendorong keluarnya dahak. Jika pasien dengan batuk kering tanpa dahak, penekan batuk dapat dipertimbangkan untuk ini.

Terapi antibiotik dan terapi antiretroviral dapat digunakan untuk bronkitis dan pneumonia. Dalam hal ini program penobatan tentunya harus berdasarkan resep dokter.



05.04

Penyakit Prostat

Setelah postingan terdahulu tentang Penyakit Batu Ginjal dan juga Askep Batu Ginjal nya, pada kesempatan kali ini saya akan memposting salah satu penyakit yang juga menyerang sistem perkemihan yaitu tentang Penyakit Benigna Prostat Hipertrofi (BPH) atau Tumor jinak prostat; secara awam masyarakat umum mengenalnya dengan nama penyakit Prostat.

Pengertian
  • Benigna prostat hipertrofi adalah pembesaran progresif pada kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih dari 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius. (Doengoes, 2000: 67)
  • Benigna prostat hipertrofi adalah pembesaran adenomateus dari kelenjar prostat (Barbara C Long, 1996)
  • Benigna prostat hipertrofi adalah pembentukan jaringan prostat yang berlebihan karena jumlah sel bertambah, tetapi tidak ganas (Depkes 1999, hal 108)
  • Benigna prostat hipertrofi adalah hiperflasi peri uretral yang merusak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah (Syamsuhidayat, Jong. 1997: 1058)
Etiologi
  • Penyebab BPH belum jelas namun terdapat faktor resiko umur dan hormon enstrogen (Mansjoer, 2000 hal 329).
  • Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperflasia prostat tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperflasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar Dehidrotesteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).
            Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperflasia prostat adalah:
1.      Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut
2.      Peranan dari growth factor sebagai pemicu pertumbuhan stoma kelenjar prostat
3.      Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati
4.   Teori sel stem menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menebabkan menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi kelenjar prostat menjadi berlebihan (poenomo, 2000, hal 74-75)

  • Penyebab BPH tidak diketahui, tapi tampaknya terdapat kaitan dengan perubahan derajat hormon yang dialami dalam proses lansia. (Barbara C Long, 1999: 32)
PATOFISIOLOGI
            BPH sering terjadi pada pria yang berusia 50 tahun lebih, tetpai perubahan mikroskopis pada prostat sudah dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. Penyakit ini dirasakan tanpa ada gejala. Beberapa pendapat mengatakan bahwa penyebab BPH ada keterkaitan dengan adanya hormon, ada juga yang mengatakan berkaitan dengan tumor, penyumbatan arteri, radang, gangguan metabolik/ gangguan gizi. 


Hormonal yang diduga dapat menyebabkan BPH adalah karena tidak adanya keseimbangan antara produksi estrogen dan testosteron. Pada produksi testosteron menurun dan estrogen meningkat. Penurunan hormon testosteron dipengaruhi oleh diet yang dikonsumsi oleh seseorang, mempengaruhi RNA dalam inti sel sehingga terjadi proliferasi sel prostat yang mengakibatkan hipertrofi kelenjar prostat maka terjadi obstruksi pada saluran kemih yang bermuara di kandung kemih. Untuk mengatasi hal tersebut maka tubuh mengadakan oramegantisme yaitu kompensasi dan dekompensasi otot-otot destruktor. Kompensasi otot-otot mengakibatkan spasme otot spincter kompensasi otot-otot destruktor juga dapat menyebabkan penebalan pada dinding vesika urinaria dalam waktu yang lama dan mudah menimbulkan infeksi.

            Dekompensasi otot destruktor menyebabkan retensi urine sehingga tekanan vesika urinaria meningkat dan aliran urine yang seharusnya mengalir ke vesika urinaria mengalami selek ke ginjal. Di ginjal yang refluks kembali menyebabkan dilatasi ureter dan batu ginjal, hal ini dapat menyebabkan pyelonefritis. Apabila telah terjadi retensi urine dan hidronefritis maka dibutuhkan tindakan pembedahan insisi. Pada umumnya penderita BPH akan menderita defisit cairan akibat irigasi yang digunakan alat invasif,bagi penderita juga dirasakan adanya penegangan yang menimbulkan nyeri luka post operasi pembedahan juga dapat menimbulkan infeksi dan peradangan yang menimbulkan disfungsi seksual apabilla tidak dilakukan perawatan dengan menggunakan teknik septik dan aseptik.

Manifestasi Klinik
            Gejala-gejala pembesaran prostat jinak dikenal sebagai lower urinary Tract Symtoms (LUTS) dibedakan menjadi gejala iritatif dan gejala obstruktif.
1.      Gejala iritatif
      Yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), nyeri pada saat miksi (disuria)
2.      Gejala Obstruktif
Yaitu pancaran melemah, rasa tidak lampias sehabis miksi, kalau mau miksi menunggu lama (hesistensi), harus mengejan (straining) kencing terputus-putus (intermittency) dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urine dan inkontinensia karena overlow.
Tanda dan gejala pada pasien yang telah lanjut penyakitnya yaitu gagal ginjal, peningkatan tekanandarah denyut nadi, respirasi. Tanda dan gejala dapat dilihat dari stadiumnya
a.   Stadium I
Ada obstruksi tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis
b.   Stadium II
 Ada retensi urine tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisi 50-150 cc
   Ada rasa tidak enak pada waktu BAK (disuria)
    Nokturia
c.   Stadium III
Urine selalu tersisa 150 cc atau lebih
d.   Stadium IV
Retensi Urine total buli-buli penuh, pasien kesakitan, urine menetes secar periodik. (Depkes, 1996, hal 109)
Untuk mengukur besarnya BPH dapat dipakai berbagai pengukuran, yaitu:
a.   Rectal Grading
Dengan rectal toucher diperkirakan seberapa prostat menonjol ke dalam lumen dari rectum. Rectal toucher sebaiknya dilakukan dengan buli-buli kosong karena bila penuh dapat membuat kesalahan. Gradasi ini sebagai berikut:
0-1 cm . . . . . . . grade 0
1-2 cm . . . . . . . grade 1
2-3 cm . . . . . . . grade 2
3-4 cm . . . . . . . grade 3
 >4 cm . . . . . . . grade 4
b.   Clinical Granding
Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa Urine
Sisa urine           0 cc . . . . . . . . . . . . . . . normal
Sisa urine      0-50 cc . . . . . . . . . . . . . . . grade 1
Sisa urine 50-150 cc . . . . . . . . . . . . . . . grade 2
Sisa urine    >150 cc . . . . . . . . . . . . . . . grade 3
Sama sekali tidak bisa kencing . . . . . . . grade 4

Komplikasi
Apabila buli-buli menjadi dekompensasi akan terjadi retensi urine karena produksi terus berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urine sehingga tekanan intravisiko meningkat dapat menimbulkan hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal tercepat terjadi jika infeksi karena selalu terdapat sisa urine dapat terbentuk batu endapan dalam buli-buli. Batu ini dapat menambah keluahan iritasi dan menimbulkan hematuria serta dapat juga menimbulkan sistitis dan bila terjadi reflek dapat terjadi pyelonefritis. Pada waktu miksi pasien harus mengejan sehingga lama kelamaan dapat menyebabkan hernia atau hemoroid.

Pemeriksaan Penunjang
1.   Pemeriksaan Laboratorium
         Analisis Urine pemeriksaan mikroskopis urine untuk melihat adanya lekosit, bakteri dan infeksi
         Elektrolit, kadar ureum, kreatinin darah untuk fungsi ginjal dan status metabolik
         Pemeriksaan PSA (Prostat Spesifik Antigen) dilakukan sebagai dasar penentuan paknya biopsi atau sebagai deteksi dari keganasan
         Darah lengkap
         Leukosit
         Blooding time
         Liver fungsi
2.   Pemeriksaan Radiologi
         Foto polos abdomen
         Prelograf intravena
         USG
         Sistoskopi

Penatalaksanaan
a.   Observasi
b.   Terapi medika mentosa (penghambat Adrenergik ?, penghambat enzim 5-?-reduktase, fisioterapi)
c.   Terapi bedah dan terapi infasiv

Untuk Pengobatan Penyakit Prostat Secara Alami (Herbal) Anda bisa membeli nya di SINI

07.21

Penyakit TBC

Bakteri Mikobakterium tuberkulosa 

Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.

Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.

Penyebab Penyakit TBC

Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).

Cara Penularan Penyakit TBC

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.



Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.

Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

Gejala Penyakit TBC

Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.

Gejala sistemik/umum

Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
Penurunan nafsu makan dan berat badan.
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

Gejala khusus
  • Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
  • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  • Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
  • Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
Penegakan Diagnosis

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:
  • Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
  • Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
  • Rontgen dada (thorax photo).
  • Uji tuberkulin.

17.12

Penyakit Batu Ginjal

Sahabat, setelah kemaren saya memposting tentang 6 Hal Penting Diare Akut Pada Anak pada kesempatan kali ini saya akan posting Tentang Batu Ginjal dari perspektif/konsep medis terlebih dahulu, sebelum nanti dilanjutkan ke Askep (Asuhan Keperawatan) Pada Pasien Dengan Batu Ginjal.

Pengertian
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra.

Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.

Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69).

Insidens dan Etiologi
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih.

Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).

Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.

Faktor intrinsik, meliputi:
1.      Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
2.      Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
3.      Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.

Faktor ekstrinsik, meliputi:
1.   Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu)
2.      Iklim dan temperatur
3.   Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
4.      Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih.
5.     Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).

Teori Terbentuknya Batu Saluran Kemih
Beberapa teori terbentuknya batu saluran kemih adalah:

Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau sabuk batu (nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh akan mengendap di dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti bantu dapat berupa kristal atau benda asing saluran kemih.

Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-kristal batu.

Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa zat ini berkurang akan memudahkan terbentuknya batu dalam saluran kemih.

Komposisi Batu
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn dan sistin. Pengetahuan tentang komposisi batu yang ditemukan penting dalam usaha pencegahan kemungkinan timbulnya batu residif.
           
Batu Kalsium
Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan yaitu sekitar 75-80%  dari seluh batu saluran kemih. Faktor tejadinya batu kalsium adalah:
1.  Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid.
2.  Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam.
3.  Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme endogen.
4.  Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu lama.
5. Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium ddengan oksalat.

Batu Struvit
Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini dipicu oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan pemecah urea (uera splitter seperti: Proteus spp., Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus) yang dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini memudahkan garam-garam magnesium, amonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP) dan karbonat apatit.

Batu Urat
Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih, banyak dialami oleh penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein dengan obat sitostatika dan urikosurik (sulfinpirazone, thiazide dan salisilat). Kegemukan, alkoholik dan diet tinggi protein mempunyai peluang besar untuk mengalami penyakit ini. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH < 6, volume urine < 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria.


Patofisiologi

Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal)

Gambaran Klinik dan Diagnosis
Keluhan yang disampaikan pasien tergantung pada letak batu, besar batu dan penyulit yang telah terjadi. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok di daerah kosto-vertebra, teraba ginjal pada sisi yang sakit akibat hidronefrosis, ditemukan tanda-tanda gagal ginjal, retensi urine dan jika disertai infeksi didaptkan demam/menggigil.

Pemeriksaan sedimen urine menunjukan adanya lekosit, hematuria dan dijumpai kristal-kristal pembentuk batu. Pemeriksaan kultur urine mungkin menunjukkan adanya adanya pertumbuhan kuman pemecah urea.
Pemeriksaan faal ginjal bertujuan mencari kemungkinan terjadinya penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersipkan pasien menjalani pemeriksaan foto PIV. Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai penyebab timbulnya batu salran kemih (kadar kalsium, oksalat, fosfat maupun urat dalam darah dan urine).

Pembuatan foto polos abdomen bertujuan melihat kemungkinan adanya batu radio-opak dan paling sering dijumpai di atara jenis batu lain. Batu asam urat bersifat non opak (radio-lusen).

Pemeriksaan pieolografi intra vena (PIV) bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu PIV dapat mendeteksi adanya batu semi opak atau batu non opak yang tidak tampak pada foto polos abdomen.
Ultrasongrafi dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV seperti pada keadaan alergi zat kontras, faal ginjal menurun dan pada pregnansi. Pemeriksaan ini dapat menilai adanya batu di ginjal atau buli-buli (tampak sebagai echoic shadow), hidronefrosis, pionefrosis atau pengkerutan ginjal.

Penatalaksanaan
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus segera dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk melakukan tindakan pada batu saluran kemih adalah telah terjadinya obstruksi, infeksi atau indikasi sosial. Batu dapat dikeluarkan melalui prosedur medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endo-urologi, bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka.

Pencegahan
Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya adalahupaya mencegah timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7%/tahun atau kambuh >50% dalam 10 tahun.
Prinsip pencegahan didasarkan pada kandungan unsur penyusun batu yang telah diangkat. Secara umum, tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah:
1.      Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-3 liter per hari
2.      Diet rendah zat/komponen pembentuk batu
3.      Aktivitas harian yang cukup
4.      Medikamentosa

Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan adalah:

1.   Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan menyebabkan suasana urine menjadi lebih asam.
2.      Rendah oksalat
3.      Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria
4.      Rendah purin
5.      Rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada hiperkalsiuria absorbtif type II

    Demikian artikel Tentang Batu Ginjal, semoga bermanfaat. Selanjutnya pada kesempatan selanjutnya saya akan memposting Askep Pada Pasien Dengan Batu Ginjal.

10.48

Mengenal Alergi Telur Pada Anak

Telur merupakan makanan yang disukai banyak orang karena harganya yang relatif murah dan juga rasanya  yang lumayan enak. Selain itu telur juga dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Namun di sisi lain   telur merupakan salah satu penyebab alergi makanan yang paling umum pada anak-anak. Oleh karena itu ada baiknya kita mengenal seluk beluk alergi telur pada anak.

Gejala alergi telur biasanya terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan telur atau makanan yang mengandung telur. Tanda dan gejala berkisar dari ringan sampai parah dan dapat termasuk ruam kulit, gatal-gatal, peradangan hidung, dan muntah atau masalah pencernaan lainnya. Meskipun jarang terjadi, alergi telur bisa menyebabkan anafilaksis - reaksi alergi yang mengancam jiwa.

Alergi telur dapat terjadi pada awal masa bayi. Kebanyakan anak bisa pulih terhadap alergi telur sebelum usia remaja. Namun dalam beberapa kasus, hal itu berlanjut sampai dewasa.

GEJALA
Reaksi alergi telur bervariasi pada seseorang dengan yang lain dan biasanya terjadi segera setelah terpapar telur. Gejala alergi telur dapat mencakup:
  • Peradangan kulit atau gatal-gatal - alergi telur reaksi yang paling umum
  • Alergi hidung peradangan (rinitis alergi)
  • Pencernaan (gastrointestinal) gejala, seperti kram, mual dan muntah
  • Asma tanda-tanda dan gejala seperti batuk sesak, atau sesak napas

ANAFILAKSIS
Reaksi alergi yang parah dapat menyebabkan anafilaksis, yakni keadaan darurat yang mengancam jiwa yang membutuhkan injeksi epinefrin (adrenalin) langsung dan pertolongan gawat darurat. Adapun tanda dan gejala Anafilaksis diantaranya:
  • Penyempitan saluran udara, termasuk tenggorokan bengkak atau benjolan di tenggorokan Anda yang membuatnya sulit untuk bernapas
  • Nyeri perut dan kram
  • Denyut nadi cepat
  • Shock : penurunan drastis pada tekanan darah, merasa pusing, atau kehilangan kesadaran

PENYEBAB
Semua alergi makanan disebabkan oleh reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi protein telur tertentu sebagai agen berbahaya. Seseorang yang alergi dengan protein telur, sel-sel sistem kekebalan tubuh (antibodi) mengenali mereka dan kemudian sinyal sistem kekebalan tubuh meresponnya sebagai bahaya sehingga tubuh melepaskan histamin dan zat kimia lain yang menyebabkan tanda-tanda dan gejala alergi.

Kuning telur maupun putih telur kedua-duanya mengandung protein yang dapat menyebabkan alergi, tapi alergi terhadap putih telurlah yang paling umum terjadi. 

FAKTOR RESIKO
Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya alergi telur:
  • Dermatitis atopik. Anak-anak dengan jenis reaksi kulit jauh lebih mungkin untuk mengembangkan alergi makanan daripada anak yang tidak memiliki masalah kulit.
  • Riwayat keluarga. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki asma, alergi makanan atau alergi jenis lain - seperti demam, gatal-gatal atau eksim, maka resiko terjadinya alergi terhadap telur juga meningkat.
  • Umur. Alergi telur adalah yang paling umum pada anak-anak. Ketika usia makin bertambah tua, sistem pencernaan matang dan reaksi alergi makanan cenderung terjadi.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling signifikan dari alergi telur adalah terjadinya reaksi alergi yang lebih parah yang membutuhkan suntikan epinefrin dan perawatan/ ppertolongan darurat.

Reaksi sistem kekebalan tubuh yang sama yang menyebabkan alergi telur juga dapat menyebabkan kondisi lain. Jika seseorang  memiliki alergi telur, maka mungkin juga mengalami peningkatan risiko pada:
  • Alergi terhadap makanan lain, seperti susu, kedelai atau kacang
  • Hay fever- reaksi alergi terhadap bulu hewan peliharaan, tungau debu atau serbuk sari rumput
  • Alergi reaksi kulit seperti dermatitis atopik
  • Asma, yang pada gilirannya meningkatkan risiko memiliki reaksi alergi yang parah terhadap telur atau makanan lain
Demikian sekilas tentang alergi telur pada anak, mudah-mudahan memberikan manfaat bagi sobat semua..



06.15

Mitos-Mitos Tentang Nyeri Sendi "Artritis"

Sahabat, postingan kali ini akan mengulas tentang berbagai macam mitos tentang nyeri sendi. Meski penyakit/ keluhan nyeri sendi lebih banyak menyerang lansia namun tidak ada salahnya bila kita sedikit mengetahui seluk beluk penyakit ini.

"Bapak X, seorang pria berumur 55 tahun, mengeluh nyeri sendi yang disertai kaku pada sendi tersebut, keluhan ini telah dirasakan sejak 3 tahun yang lalu, keluhan semakin bertambah berat seiring bertambahnya usia..."

Bapak X, menurut kebanyakan orang dikatakan menderita sakit 'Rematik', ada pula yang menyebutnya 'encok' namun tepatnya di dunia kedokteran bapak 'X' menderita osteoarthritis yang merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit rematik.

Jadi "Nyeri Reumatik tidak disebabkan oleh satu penyakit yang sama"

Untuk itu perlu kiranya kia meluruskan mitos-mitos yang berkembang selama ini yang berhubungan dengan nyeri sendi.
Mitos :"Semua keluhan di otot, tulang, urat dan sendi merupakan suatu penyakit yang sama yaitu 'sakit reumatik". Fakta : Penyakit reumatik banyak sekali macamnya. Keluhan nyeri otot, tulang, urat (sambungan otot dan tulang) dan sendi bukanlah merupakan penyakit yang sama, namun dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. Masing-masing penyakit mempunyai sebab yang berbeda dengan penanganan yang berbeda pula.

Mitos: "Penyakit reumatik hanya mengenai orang tua saja". Fakta : Penyakit reumatik dapat mengenai semua usia. Anak-anak pun dapat terkena penyakit reumatik. Beberapa penyakit reumatik memang cenderung mengenai orang tua, misalnya osteoartritis.

Mitos: Tentang penyebab reumatik. Beberapa mitos berikut tidak benar namun diyakini masyarakat, yaitu bahwa radang sendi disebabkan oleh karena :

  • cuaca buruk
  • terlalu banyak mandi, terutama mandi pada malam hari
  • alergi terhadap makanan tertentu
  • makan makanan/ minuman yang dingin
  • suhu ruangan yang dingin ber-AC hingga terasa dingin menusuk tulang
Tidak ada bukti bahwa reumatik disebabkan oleh hal-hal tersebut di atas. Tidak ada bukti bahwa makanan tertentu dapat menyebabkan reumatik. Namun, kecuali pada artritis 'gout' (nyeri sendi 'asam urat') ada hubungannya dengan diet tinggi 'purin',

Bila mitos tersebut benar maka tentunya orang-orang yang tinggal di cuaca dingin lebih banyak yang terkena reumatik. Jadi mitos tersebut tidak benar.

Apakah penyakit reumatik merupakan penyakit yang diturunkan?
Penyakit reumatik bukanlah penyakit keturunan. Namun faktor riwayat keluarga dapat berperan pada beberapa penyakit reumatik seperti pada : lupus eritematosus, artritis reumatoid dan artritis gout.

Dapatkah seseorang menderita beberapa penyakit reumatik?
Seseorang bisa saja menderita lebih dari satu kelainan penyakit reumatik, misalnya :
  • penderita osteoporosis (keropos tulang) juga menderita osteoartritis
  • penderita artritis gout (nyeri sendi asam urat) juga menderita osteoartritis
  • penderita reumatoid artritis juga menderita osteoporosis
Demikian sekilas tentang Mitos-Mitos Tentang Nyeri Sendi "Artritis" mudah-mudahan bermanfaat.
dikutip dari "LeafBook Nyeri Sendi Artritis by Yudi Garnadi, dr."