21.01

Kasihan, Tak Ikut Bakar Rokok Tapi Kena Jatah Kanker Paru



IJakarta, Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya menanggung beban atas suatu hal yang tak pernah dilakukan? Misalnya pada kasus salah tangkap. Tentu menyedihkan sekali. Begitu pula nasib para perokok pasif atau secondhand smoker, ikut menanggung penyakit walau tak ikut menyalakan rokok.

Menurut data Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada sekitar 61,4 juta perokok aktif di Indonesia. Sekitar sekitar 97 juta warga Indonesia yang tidak merokok terpaksa berisiko ikut terkena penyakit karena menghirup asap rokok. Pada anak-anak, yang terpapar asap rokok jumlahnya sekitar 43 juta. Sebanyak 11,4 juta di antaranya masih berusia 0 - 4 tahun.

"Pada perokok aktif, kemungkinannya untuk mengidap kanker adalah 13,6 kali lebih besar ketimbang yang non perokok. Sedangkan pada perokok pasif, kemungkinannya untuk berkembang menjadi kanker 4 kali lipat lebih besar ketimbang yang non perokok," kata Dr. Sita Andarini, SpP(k), PhD, spesialis paru di RSUP Persahabatan kepada detikHealth, Kamis (30/5/2013).

Asap rokok yang dibakar dan meracuni sekitar dapat terhirup oleh orang-orang di sekitarnya. Inilah yang membuat perokok pasif pada akhirnya berisiko juga terkena kanker. Dr Sita menjelaskan, ada 2 jenis asap yang dihasilkan saat seseorang membakar rokok, yaitu asap mainstream dan sidestream.

Asap mainstream adalah asap rokok yang dihisap dan dihembuskan kembali oleh perokok. Sedangkan asap sidestream adalah asap hasil pembakaran rokok. Dari segi kandungan senyawa kimia, ternyata di dalam asap sidestream konsentrasi senyawa berbahayanya lebih banyak ketimbang asap mainstream.

"Di dalam asap sidestream, partikel-partikelnya lebih kecil dan halus, sedangkan dalam asap mainstream partikel-partikelnya lebih besar. Nah, pada perokok pasif, kebanyakan yang masuk adalah partikel sidestream yang lebih kecil dan halus. Inilah yang memicu kanker. Makanya pada perokok pasif kanker parunya biasanya di daerah tepi," terang dr Sita.

Dr Sita menambahkan, selain terkandung tar dan nikotin, ada lebih dari 4000 zat kimia dan 60 zat pemicu kanker dalam sebatang rokok. Dengan partikel rokok yang lebih halus dan kecil, tak heran jika perokok pasif ikut berisiko terserang kanker paru.

21.01

Mau Harmonis? Kenali Tahapan Pernikahan Berikut



JAKARTA- Membangun pernikahan harmonis adalah impian setiap pasangan, tapi sekaligus menjadi tantangan seumur hidup. Sama seperti usia biologis manusia, pernikahanpun ada fase atau tahapannya. Memahami perbedaan fase-fase dalam pernikahan akan membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dan berkualitas.

Ada 7 fase atau tahapan pernikahan yang perlu kita pahami untuk menghasilkan hubungan yang lebih harmonis

Tahap 1 : Passion/Gairah


Ini adalah tahap bulan madu, 0-2 tahun. Masa ini rasa saling tertarik begitu kuat menyatukan Anda dengan pasangan. Rasa tertarik ini membawa kita menuju komitmen untuk saling berbagi. Tapi tahap ini umumnya sangat pendek, sekitar 2 tahun. Setelah itu sebagian pasangan mulai merasakan kehilangan daya tarik 'magis' tersebut.

Pada tahap ini, gairah sangatlah kuat seperti sebuah gelombang perasaan yang amat menyenangkan. Sampai-sampai dunia ini serasa milik berdua. Persis seperti pertama jatuh cinta dan pacaran.  Pada tahapan ini, intimasi mulai terbangun, demikian juga saling menghormati satu sama lain.

Tahap 2 : Realistis


Pada tahap ini, bulan madu mulai berakhir. Masing-masing mulai realistis melihat keadaan pasangan dan menatap masa depan. Mulai muncul kekecewaan karena menemukan bahwa pasangan banyak kekurangan yang tadinya tak terlihat. Misal, Anda mulai menemukan istri lupa merapikan dapur atau tidak menurunkan tutup toilet dengan baik. Anda menemukan pasangan malas mandi atau sembarangan menaruh barang.

Kekecewaan mulai menumpuk di hati anda. Inilah permulaan konflik yang tak terhindarkan. Pada masa ini, Anda berdua perlu belajar untuk menerima pasangan apa adanya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.  Butuh mengembangkan kasih dan penerimaan tak bersyarat. Buahnya ialah tetap bisa respek meski menemukan kelemahan pasangan.

Sikap lain ialah, Anda perlu belajar mengkomunikasikan secara asertif perasaan sebenarnya. Menyampaikan hal yang anda inginkan dari pasangan. Sambil belajar berempati dan mendengarkan kebutuhan terdalam pasangan. Ini menciptakan fondasi yang kuat, dengan saling mendukung di tahun-tahun yang mulai sulit membangun intimasi

Komunikasi asertif adalah menyampaikan perasaan sesungguhnya, terutama emosi negatif tanpa menyerang mitra bicara. Sebagian kita, umumnya segan menyatakan perasaan seperti marah, sedih dan kecewa, lalu memilih menekan/ menyimpannya

Memendam emosi seperti marah dan kecewa apalagi dalam waktu lama hanya melukai diri sendiri. Tak ada yang salah dengan kesedihan atau kemarahan asal ada alasan dan menyampaikan dengan cara yang tepat. Sampaikanlah kemarahan dengan ekspresi, pilihan kata yang tepat dan pada waktu yang tepat.

Misal: "Pa, boleh kita membicarakan sesuatu yang penting diantara kita, kapan waktu yang enak buat Papa?"

Contoh marah asertif: "Pa, saya kecewa dan merasa marah karena Papa lupa kemarin saya ulangtahun…"

Bandingkan marah yg provokatif: "Itulah, emang sifat Papa itu egois selalu lupa sama istri. Kau tak pernah peduli ulang tahunku"

Marah asertif membuat kita lega, karena tidak perlu menekan kemarahan. Tapi tanpa perlu menyerang pribadi pasangan kita. Komunikasi tetap terjaga baik

Tahap 3: Pemberontakan


Pada tahapan ini pasangan anda mulai kangen dengan teman-temannya. Istri Anda mulai sering arisan atau sekedar reunian. Suka berlama-lama nongkrong dan belanja di mal.  Sementara suami Anda lebih memilih asyik dengan hobinya. Ada yang suka memancing, tak sedikit menghabiskan waktu untuk berolahraga usai kantor. Tak sedikit tiba di rumah malah asyik chatting. Kadang tiba sampai rumah sudah larut malam tanpa kirim kabar dan tanpa rasa bersalah. Anda mulai jengkel, karena merasa pasanganmu sudah berubah, cuek.

Sama seperti remaja puber yang ogah jalan dengan orangtuanya, si istri ingin jalan-jalan ke mal tapi sang suami memilih bermain badminton dengan konconya. Yang paling berat ialah saat masing-masing dari mereka ingin membangun karier sendiri. Istri mulai merasa tidak puas hanya di rumah mengurus anak. Gengsi hanya menerima uang bulanan dari suami. Istri mulai usaha dan punya uang sendiri, mulai timbul perasaan disaingi.

Karena sudah punya karier dan uang sendiri tanpa disadari dan tak terhindarkan suami merasa istri mulai mendominasi percakapan. Mulailah saat bertempur atau konflik. Cinta di tengah situasi ini makin tak mudah. Seiring bertambahnya umur, alih-alih mengalah malah keduanya merasa diri benar, dan menuding pasangannyalah yang salah. Menyalahkan pasangan sebagai penyebab rumahtangga tidak bahagia.

Perasaan tersinggung makin menumpuk, dan mulai cenderung berpikir negatif terhadap pasangan. Mind-reading atau membaca pikiran suami. "Jangan-jangan dia sudah ….."

Akibatnya, semua yang baik daripasangan tidak terlihat, semua jadi negatif. Mulailah masing-masing menutup diri, marah jika dikritik pasangan

Tahap ini bagaimanapun tak terhindarkan. Di masa ini anda perlu mempelajari seni mengelola konflik. (Baca buku Ketrampilan Perkawinan)

Seringkali masalah timbul karena isi dari konflik itu sendiri. Sumbernya justru karena punya kemarahan tersembunyi dan sudah merasa frustrasi terhadap pasangan. Inilah yang membuat perasaan anda menjadi negatif meski pasangan berbuat baik.

Untuk menunjukkan kemarahan anda memilih dengan tindakan yang berlawanan dengan keinginan pasangan. Misal, suami anda minta hemat ehh Anda malah boros. Istri anda minta anda setia ehhh andanya malah selingkuh. Diam-diam Anda pindah kerja. Ini bisa menjadi awal petaka perkawinan termasuk perceraian.

Tahap 4: Kerjasama


Sementara pernikahan mengalami progres dia juga menjadi semakin rumit. Karier menanjak, rumah bertambah besar, komitmen personal bertambah dalam dengan munculnya anak-anak.

Dalam tahap kerjasama, pernikahan membutuhkan sifat seperti bisnis. Singkirkan dulu semua cinta-cintaan, emosi, dan hal-hal realisasi pribadi. Ada biaya-biaya bulanan yang harus dibayar, investasi untuk diurus, kesehatan untuk diperhatikan, dan yang terutama, biaya anak-anak sekolah.

Tahap 5: Reuni


Jika anda memiliki anak-anak, tahap kerjasama ini bisa berlangsung 10-20 tahun, dan akan menghilang tiba-tiba. Komitmen parenting akan berkurang, masalah finansial stabil, karir sudah diset, dan tagihan apapun bisa dibayar. Lalu bagaimana? Untuk pasangan yang bahagia, ini adalah saatnya untuk saling mengapresiasi satu sama lain kembali. Bukan sebagai orangtua atau penyedia, tetapi sebagai kekasih dan sahabat. Capailah tahap ini untuk kedamaian, kebahagiaan dan rekonsiliasi.

Semua itu terdengar indah tetapi seringkali sulit untuk dicapai. Api gairah harus distok ulang; kekecewaan serta jarak dari usia paruh baya harus diatur; peran dan ekspektasi dari pernikahan butuh untuk dibangun ulang.

Tahap 6: Ledakan

Pencetusnya ialah hilangnya pekerjaan, masalah kesehatan, atau perpindahan ke kota yang baru. Bisa jadi adanya masalah finansial, penyakit, hingga meninggalnya orangtua. Ini terjadi selagi anda menjalani hidup paruh baya dan menuju usia lansia. Dalam tahap ini, antara anda atau pasangan akan berhadapan dengan kejadian-kejadian besar yang dapat mempengaruhi hubungan Anda selama sehari, setahun atau seumur hidup. Sementara keenam tahap lainnya cenderung untuk muncul secara berurutan, tahap ledakan ini dapat terjadi kapan saja dalam masa pernikahan Anda. Terutama di usia 40 hingga 50 tahun.

Ketika dihadapkan dengan krisis pribadi, pernikahan justru dapat menjadi sumber penghibur. Sebaliknya bisa juga menjadi sumber ketakutan yang baru. Tugas melewati tahapan ledakan ini adalah: hadapi dengan sebaik-baiknya tantangan dan perubahan hidup yang ada. Jaga diri agar tetap bahagia dan sehat, tidak ditentukan situasi sekitar. Pernikahan tetap bisa menjadi sumber kebahagiaan setiap hari, asalkan anda cakap mengelola stres.

Tahap 7: Penyempurnaan

Survey menemukan bahwa kebahagiaan pernikahan muncul setelah beberapa dekade, melewati jalan panjang. Kebahagiaan memang bukan tujuan pernikahan. Kebahagiaan dikaruniakan di tengah perjalanan pernikahan. Setelah melewati pelbagai suka dan duka, untung dan malang. Dengan bertambah besarnya anak-anak dan pasangan sudah mengenal diri masing-masing maka makin bisa menikmati pernikahan. Setelah tinggal bersama sekian lama dapat mentolerir sikap, dan memahami kebutuhan masing-masing. Dalam tahap penyempurnaan ini saling "mengenal" satu sama lain menjadi kunci.

Penting pula diingat, jika ingin tetap bahagia jangan sampai anda kehilangan sifat kekanak-anakanberapapun umur dan berapapun banyak keriput yang anda miliki. Belajarlah humor dan bercanda hingga di usia senja.

Mempertahankan cinta sepanjang kehidupan menjadi kunci untuk menikmati hubungan yang penuh berkat. Meski banyak pengalaman buruk di masa lalu, hiduplah dimasa kini, dan bukan di masa lalu. Tak ada pasangan yang sempurna. Setiap pasangan dipanggil saling menyempurnakan sampai ajal memanggil.

Penutup

Membangun pernikahan yang sukses adalah tantangan seumur hidup. Mengerti fase pernikahan yang berbeda dapat membantu anda membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih baik

20.59

Obat Pereda Nyeri Dosis Tinggi Bahayakan Jantung



JAKARTA- Penggunaan obat pereda nyeri dosis tinggi dan dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko serangan jantung. Di lain pihak, obat tersebut juga memiliki manfaat.

Obat pereda nyeri golongan nonsteroid (NSAIDs) dosis tinggi diketahui akan meningkatkan risiko gangguan jantung, seperti serangan jantung, stroke, atau kematian akibat penyakit jantung.

Namun dalam penelitian berskala besar diketahui orang yang minum obat pereda nyeri dosis tinggi setiap hari selama setahun, sekitar sepertiganya justru terlindung dari serangan jantung.

"Bisa dikatakan bahwa obat-obatan pereda nyeri memiliki faktor risiko dan manfaat yang hampir sama," kata Colin Baigent dari Universitas Oxford yang memimpin uji klinik obat tersebut.

Ia menekankan bahwa risiko penyakit jantung secara umum cukup tinggi pada orang yang menderita nyeri kronik, misalnya saja pasien artritis yang harus minum pereda nyeri dalam dosis tinggi.

"Tetapi obat pereda nyeri dosis rendah, misalnya untuk nyeri otot, yang dibeli secara bebas dan dipakai dalam jangka pendek tidak berbahaya," katanya.

Penelitian yang dilakukan Baigent dan timnya ini mengumpulkan data dari 639 uji coba bersifat random mengenai obat golongan NSAIDs.

Meski begitu pasien diminta tidak menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

"Untuk pasien artritis, NSAIDs mengurangi nyeri sendi dan pembengkakan secara efektif. Penggunaan obat tersebut meningkatkan kualitas hidup pasien," katanya.

Dengan kata lain, kendati obat pereda nyeri dosis tinggi memiliki risiko tapi manfaatnya juga besar

20.59

Tujuh Gaya Berbusana Muslim yang Salah Kaprah!


JAKARTA— Baju muslim kini memang tampil dengan banyak variasi. Namun, para Muslimah harus hati-hati jangan sampai terjebak pada gaya berbusana muslim yang justru menunjukkan aurat. Selama ini, banyak perempuan Indonesia yang salah kaprah akan model baju muslim yang syar'i (menutup aurat dan tak membentuk lekuk tubuh).


Apa saja model busana muslim yang salah kaprah? Pendiri World Muslimah Foundation Rofi Eka Shanty mengungkapkan, setidaknya ada tujuh gaya berbusana muslim yang salah kaprah:

1. Baju muslim dengan padu padan kerudung yang dililitkan di leher dan tidak menutup dada.
2. Pakaian berpotongan.
3. Lengan pendek sehingga menunjukkan lengan.
4. Pakaian tidak menyentuh tanah sehingga kaki terbuka.
5. Menggunakan pakaian ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuh.
6. Menggunakan celana jeans yang juga memperlihatkan lekuk tubuh.
7. Menggunakan rok dengan belahan sehingga aurat akan bisa tersingkap.

Rofi memaparkan, sebaiknya para Muslimah menggunakan pakaian yang longgar, dengan bermain variasi pada kerudung atau pun motif baju gamis. Rofi mengaku sudah berkonsultasi dengan fashion stylist Indonesia yang kini menetap di Perancis, Hary Bisma.

"Ternyata ketika pasal dan ayat dalam Al Quran coba kami sandingkan dengan pemahaman mode dari Perancis, ternyata memang berkesinambungan," ucap Rofi.

Menurut Rofi, ketika sebuah baju gamis longgar dikenakan seorang perempuan, maka harus dipadupadankan dengan kerudung yang menutup dada. Pasalnya, jika mengenakan kerudung model lilit yang menunjukkan bagian leher justru terlihat aneh. "Terkesan tidak seimbang jadi seperti jarum pentul. Makanya harus dicari kerudung yang juga longgar," tutur Rofi.

Supaya terlihat trendi, Rofi menyarankan kerudung bisa dibuat model lilitan bertumpuk-tumpuk seperti layer sehingga tidak ketat di leher. "Di negara-negara Muslim pun kalau dilihat mereka cenderung menonjolkan eksposur pada kerudung dan juga payet pada baju gamisnya," kata Rofi. Intinya, lanjut Rofi, mengenakan pakaian muslim tidak harus berlebihan. Model simpel bisa menjadi cantik mana kala dipakai dengan benar.

00.46

Tanpa Penis, Pria Masih Bisa Punya Anak




Jakarta — Perkembangan ilmu kedokteran dalam bidang teknologi reproduksi memungkinkan seorang pria memiliki keturunan yang berasal dari darah dagingnya sendiri meski tanpa melakukan hubungan seksual.

Karena itulah, AM (22), pria yang penisnya dipotong, kelak tetap bisa memiliki anak sendiri melalui proses inseminasi atau program bayi tabung.

"Memiliki keturunan dengan fungsi seks adalah dua hal yang berbeda. Meski tidak bisa ereksi, asalkan seorang pria masih memiliki sel sperma, tetap bisa dilakukan pembuahan," kata Prof Wimpie Pangkahila, Sp And, seksolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, saat dihubungi Kompas.com.

Hal senada disampaikan spesialis urologi, dr Gideon Tampubolon. "Tidak ada hambatan untuk memiliki anak karena sel sperma bisa diambil dari testisnya langsung," kata dokter dari RS Premier Bintaro, Tangerang, ini.

Inseminasi buatan adalah proses pembuahan dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim. Kesempatan hamil dengan program ini 5 persen-25 persen. Faktor keberhasilan kehamilan tergantung pada berbagai hal, mulai dari usia ibu sampai kualitas sperma.

Teknik pengambilan sperma secara khusus akan dilakukan oleh dokter. Nantinya, sperma yang diambil akan disuntikkan langsung ke sel telur sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan.

Inseminasi merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kehamilan pada pasangan yang kurang subur. Sementara itu, bayi tabung merupakan opsi terakhir.

Untuk menjaga kualitas sperma tetap terjaga, seorang pria disarankan untuk menjaga pola hidupnya tetap sehat, antara lain dengan menghindari rokok dan alkohol, serta mengurangi paparan polusi

00.46

Hati-hati, Obat Ini Bisa Bikin Pria Jadi Impoten



Jakarta, Disfungsi ereksi alias impotensi bisa menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyakan pria. Kondisi fisik dan psikis seringkali menjadi biang keladinya. Yang tak diduga, obat-obatan tertentu ternyata juga bisa menyebabkan pria impoten? Apa itu?

Dalam studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Spine, peneliti menemukan bahwa obat pereda nyeri bisa menyebabkan efek samping buruk pada pria. Dalam penelitian tersebut, peneliti melihat catatan kesehatan lebih dari 11.000 pria dengan nyeri punggung dan menemukan bahwa 19 persen dari orang-orang tersebut secara teratur mengonsumsi opioid dosis tinggi, antara lain hydrocodone, oxycodone, morfin. Selain mengonsumsi obat pereda nyeri, subjek juga menerima untuk obat-obatan disfungsi ereksi.

"Sudah diketahui bahwa opioid bisa menurunkan kadar testosteron dengan sangat cepat," jelas pemimpin dan penulis studi, Richard A. Deyo, M.D., MPH, dari Kaiser Permanente, seperti dilansir Menshealth, Senin (27/5/2013).

Dr Deyo menjelaskan, meski hubungan antara tingkat testosteron dan disfungsi ereksi masih longgar, itu masih menjadi penjelasan yang paling logis mengapa obat penghilang rasa sakit dapat mempengaruhi libido dan fungsi ereksi pada pria.

Kabar baiknya, tingkat testosteron pria bisa kembali normal begitu ia menghentikan rutinitasnya mengonsumsi pil opioid.

"Jadi, jika Anda hanya menggunakannya sesekali (orang dalam penelitian mengonsumsinya setiap hari selama 4 bulan) Anda mungkin tidak menyadari efek sampingnya terkait disfungsi ereksi," kata Dr Deyo.

Selain mengonsumsi dalam jangka waktu panjang, disfungsi ereksi juga terjadi karena pemberian obat dalam dosis tinggi. Menurut Dr Deyo, dosis yang ditentukan untuk opioid biasanya hanya 20 miligram (mg) per hari, bukan 120 mg seperti yang dianalisis dalam penelitian ini.

Jika Anda mengalami sakit punggung kronis dan secara teratur mengambil obat-obatan tersebut, Dr Deyo menyarankan agar berbicara dengan dokter Anda tentang cara-cara alternatif untuk meringankan sakit tersebut. Salah satu pilihannya adalah berkeringat.

"Ini mungkin terdengar berlawanan dengan intuisi, tapi ada penelitian yang menarik, yang menunjukkan latihan ketat yang juga disesuaikan dengan seseorang dengan masalah punggung dapat membuat perbedaan besar dalam rasa sakit kronis. Olahraga juga dapat melawan disfungsi ereksi," tutup Dr Deyo

00.42

Hati-hati dengan Layanan Pembesar Alat Kelamin



Jakarta Ukuran alat kelamin tak dimungkiri masih menjadi salah satu parameter penting dalam seksualitas pria. Hal itu pula yang membuat sebagian kaum Adam merasa "tak puas" selalu berupaya mencari cara untuk memperbaiki ukuran kelaminnya.

Meski demikian, minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi menyebabkan banyak pria terjebak pada prosedur pembesaran yang sembarangan terhadap alat kelamin. Tak semua prosedur pembesaran dapat memberikan hasil yang diharapkan, terutama pelayanan sembarangan yang tidak berdasarkan pada ilmu kedokteran. Alih-alih mendapat ukuran sesuai keinginan, layanan ini justru akan menyebabkan kerusakan permanen pada alat vital.

Spesialis urologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) dr Nur Rasyid mengingatkan, kaum pria sebaiknya tidak mencari upaya untuk membesarkan alat kelaminnya. Pasalnya, alat kelamin pria dewasa sebenarnya sudah mencapai ukuran yang maksimal sehingga tidak mungkin dapat diperbesar lagi.

Kecuali pada anak dalam usia prepubertal atau sebelum memasuki usia puber, alat kelamin pria masih dapat bertumbuh sehingga masih dapat dilakukan upaya pembesaran.

"Umumnya pria setelah berusia 21 tahun, organ vitalnya sudah mengalami pematangan sempurna," ujar Nur dalam seminar media bertajuk "Disfungsi Ereksi (DE): Mengapa Pria Enggan Membicarakan serta Mengonsultasikannya ke Dokter?" di Jakarta, Rabu (22/5/2013).

Hanya saja, ukuran organ vital pria dapat bertambah besar saat mengalami ereksi. Nur mengatakan, hal ini terjadi karena peningkatan suplai darah di pembuluh darah penis. Volume darah pada penis saat ereksi dapat mencapai empat kali volume darah saat penis tidak ereksi.

"Maka, jika ereksinya lancar, ukuran penis seharusnya tidak menjadi masalah karena akan membesar sendiri," kata Nur.

Sayangnya, imbuh Nur, tidak semua pria mengetahui ukuran penis yang normal. Masih banyak yang merasa ukuran yang dimilikinya kecil, padahal sebenarnya normal.

Kata Nur, ukuran penis rata-rata orang Indonesia yang dianggap cukup untuk memenuhi fungsi organ seksual mencapai 9 sentimeter saat ereksi. Maka dari itulah, pentingnya artinya kaum pria untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi yang tepat.

Berbahaya

Nur mengingatkan masyarakat akan bahaya prosedur pembesaran alat kelamin yang masih banyak ditemukan.  Upaya pembesaran penis yang berbahaya di antaranya adalah dengan melakukan penyuntikan penambahan volume di bawah kulit penis. Penambahan volume dapat dilakukan dengan menyuntikkan silikon, bahkan hingga minyak tradisional.

Nur mengatakan, pengisian volume dengan bahan berbahaya mungkin terlihat baik pada awalnya. Namun, efeknya tidak akan lama. Paling lama sekitar enam sampai dua belas bulan. Setelahnya, bentuk dan kulit penis bisa mengalami kerusakan.

"Mungkin mirip dengan penyuntikan silikon di dada atau wajah. Jika sembarangan, tentu akan buruk hasilnya. Melakukannya pada organ vital akan berakibat kerusakan fungsi dari alat vital," paparnya