20.59

Obat Pereda Nyeri Dosis Tinggi Bahayakan Jantung



JAKARTA- Penggunaan obat pereda nyeri dosis tinggi dan dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko serangan jantung. Di lain pihak, obat tersebut juga memiliki manfaat.

Obat pereda nyeri golongan nonsteroid (NSAIDs) dosis tinggi diketahui akan meningkatkan risiko gangguan jantung, seperti serangan jantung, stroke, atau kematian akibat penyakit jantung.

Namun dalam penelitian berskala besar diketahui orang yang minum obat pereda nyeri dosis tinggi setiap hari selama setahun, sekitar sepertiganya justru terlindung dari serangan jantung.

"Bisa dikatakan bahwa obat-obatan pereda nyeri memiliki faktor risiko dan manfaat yang hampir sama," kata Colin Baigent dari Universitas Oxford yang memimpin uji klinik obat tersebut.

Ia menekankan bahwa risiko penyakit jantung secara umum cukup tinggi pada orang yang menderita nyeri kronik, misalnya saja pasien artritis yang harus minum pereda nyeri dalam dosis tinggi.

"Tetapi obat pereda nyeri dosis rendah, misalnya untuk nyeri otot, yang dibeli secara bebas dan dipakai dalam jangka pendek tidak berbahaya," katanya.

Penelitian yang dilakukan Baigent dan timnya ini mengumpulkan data dari 639 uji coba bersifat random mengenai obat golongan NSAIDs.

Meski begitu pasien diminta tidak menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

"Untuk pasien artritis, NSAIDs mengurangi nyeri sendi dan pembengkakan secara efektif. Penggunaan obat tersebut meningkatkan kualitas hidup pasien," katanya.

Dengan kata lain, kendati obat pereda nyeri dosis tinggi memiliki risiko tapi manfaatnya juga besar

20.59

Tujuh Gaya Berbusana Muslim yang Salah Kaprah!


JAKARTA— Baju muslim kini memang tampil dengan banyak variasi. Namun, para Muslimah harus hati-hati jangan sampai terjebak pada gaya berbusana muslim yang justru menunjukkan aurat. Selama ini, banyak perempuan Indonesia yang salah kaprah akan model baju muslim yang syar'i (menutup aurat dan tak membentuk lekuk tubuh).


Apa saja model busana muslim yang salah kaprah? Pendiri World Muslimah Foundation Rofi Eka Shanty mengungkapkan, setidaknya ada tujuh gaya berbusana muslim yang salah kaprah:

1. Baju muslim dengan padu padan kerudung yang dililitkan di leher dan tidak menutup dada.
2. Pakaian berpotongan.
3. Lengan pendek sehingga menunjukkan lengan.
4. Pakaian tidak menyentuh tanah sehingga kaki terbuka.
5. Menggunakan pakaian ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuh.
6. Menggunakan celana jeans yang juga memperlihatkan lekuk tubuh.
7. Menggunakan rok dengan belahan sehingga aurat akan bisa tersingkap.

Rofi memaparkan, sebaiknya para Muslimah menggunakan pakaian yang longgar, dengan bermain variasi pada kerudung atau pun motif baju gamis. Rofi mengaku sudah berkonsultasi dengan fashion stylist Indonesia yang kini menetap di Perancis, Hary Bisma.

"Ternyata ketika pasal dan ayat dalam Al Quran coba kami sandingkan dengan pemahaman mode dari Perancis, ternyata memang berkesinambungan," ucap Rofi.

Menurut Rofi, ketika sebuah baju gamis longgar dikenakan seorang perempuan, maka harus dipadupadankan dengan kerudung yang menutup dada. Pasalnya, jika mengenakan kerudung model lilit yang menunjukkan bagian leher justru terlihat aneh. "Terkesan tidak seimbang jadi seperti jarum pentul. Makanya harus dicari kerudung yang juga longgar," tutur Rofi.

Supaya terlihat trendi, Rofi menyarankan kerudung bisa dibuat model lilitan bertumpuk-tumpuk seperti layer sehingga tidak ketat di leher. "Di negara-negara Muslim pun kalau dilihat mereka cenderung menonjolkan eksposur pada kerudung dan juga payet pada baju gamisnya," kata Rofi. Intinya, lanjut Rofi, mengenakan pakaian muslim tidak harus berlebihan. Model simpel bisa menjadi cantik mana kala dipakai dengan benar.

00.46

Tanpa Penis, Pria Masih Bisa Punya Anak




Jakarta — Perkembangan ilmu kedokteran dalam bidang teknologi reproduksi memungkinkan seorang pria memiliki keturunan yang berasal dari darah dagingnya sendiri meski tanpa melakukan hubungan seksual.

Karena itulah, AM (22), pria yang penisnya dipotong, kelak tetap bisa memiliki anak sendiri melalui proses inseminasi atau program bayi tabung.

"Memiliki keturunan dengan fungsi seks adalah dua hal yang berbeda. Meski tidak bisa ereksi, asalkan seorang pria masih memiliki sel sperma, tetap bisa dilakukan pembuahan," kata Prof Wimpie Pangkahila, Sp And, seksolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, saat dihubungi Kompas.com.

Hal senada disampaikan spesialis urologi, dr Gideon Tampubolon. "Tidak ada hambatan untuk memiliki anak karena sel sperma bisa diambil dari testisnya langsung," kata dokter dari RS Premier Bintaro, Tangerang, ini.

Inseminasi buatan adalah proses pembuahan dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim. Kesempatan hamil dengan program ini 5 persen-25 persen. Faktor keberhasilan kehamilan tergantung pada berbagai hal, mulai dari usia ibu sampai kualitas sperma.

Teknik pengambilan sperma secara khusus akan dilakukan oleh dokter. Nantinya, sperma yang diambil akan disuntikkan langsung ke sel telur sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan.

Inseminasi merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kehamilan pada pasangan yang kurang subur. Sementara itu, bayi tabung merupakan opsi terakhir.

Untuk menjaga kualitas sperma tetap terjaga, seorang pria disarankan untuk menjaga pola hidupnya tetap sehat, antara lain dengan menghindari rokok dan alkohol, serta mengurangi paparan polusi

00.46

Hati-hati, Obat Ini Bisa Bikin Pria Jadi Impoten



Jakarta, Disfungsi ereksi alias impotensi bisa menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyakan pria. Kondisi fisik dan psikis seringkali menjadi biang keladinya. Yang tak diduga, obat-obatan tertentu ternyata juga bisa menyebabkan pria impoten? Apa itu?

Dalam studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Spine, peneliti menemukan bahwa obat pereda nyeri bisa menyebabkan efek samping buruk pada pria. Dalam penelitian tersebut, peneliti melihat catatan kesehatan lebih dari 11.000 pria dengan nyeri punggung dan menemukan bahwa 19 persen dari orang-orang tersebut secara teratur mengonsumsi opioid dosis tinggi, antara lain hydrocodone, oxycodone, morfin. Selain mengonsumsi obat pereda nyeri, subjek juga menerima untuk obat-obatan disfungsi ereksi.

"Sudah diketahui bahwa opioid bisa menurunkan kadar testosteron dengan sangat cepat," jelas pemimpin dan penulis studi, Richard A. Deyo, M.D., MPH, dari Kaiser Permanente, seperti dilansir Menshealth, Senin (27/5/2013).

Dr Deyo menjelaskan, meski hubungan antara tingkat testosteron dan disfungsi ereksi masih longgar, itu masih menjadi penjelasan yang paling logis mengapa obat penghilang rasa sakit dapat mempengaruhi libido dan fungsi ereksi pada pria.

Kabar baiknya, tingkat testosteron pria bisa kembali normal begitu ia menghentikan rutinitasnya mengonsumsi pil opioid.

"Jadi, jika Anda hanya menggunakannya sesekali (orang dalam penelitian mengonsumsinya setiap hari selama 4 bulan) Anda mungkin tidak menyadari efek sampingnya terkait disfungsi ereksi," kata Dr Deyo.

Selain mengonsumsi dalam jangka waktu panjang, disfungsi ereksi juga terjadi karena pemberian obat dalam dosis tinggi. Menurut Dr Deyo, dosis yang ditentukan untuk opioid biasanya hanya 20 miligram (mg) per hari, bukan 120 mg seperti yang dianalisis dalam penelitian ini.

Jika Anda mengalami sakit punggung kronis dan secara teratur mengambil obat-obatan tersebut, Dr Deyo menyarankan agar berbicara dengan dokter Anda tentang cara-cara alternatif untuk meringankan sakit tersebut. Salah satu pilihannya adalah berkeringat.

"Ini mungkin terdengar berlawanan dengan intuisi, tapi ada penelitian yang menarik, yang menunjukkan latihan ketat yang juga disesuaikan dengan seseorang dengan masalah punggung dapat membuat perbedaan besar dalam rasa sakit kronis. Olahraga juga dapat melawan disfungsi ereksi," tutup Dr Deyo

00.42

Hati-hati dengan Layanan Pembesar Alat Kelamin



Jakarta Ukuran alat kelamin tak dimungkiri masih menjadi salah satu parameter penting dalam seksualitas pria. Hal itu pula yang membuat sebagian kaum Adam merasa "tak puas" selalu berupaya mencari cara untuk memperbaiki ukuran kelaminnya.

Meski demikian, minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi menyebabkan banyak pria terjebak pada prosedur pembesaran yang sembarangan terhadap alat kelamin. Tak semua prosedur pembesaran dapat memberikan hasil yang diharapkan, terutama pelayanan sembarangan yang tidak berdasarkan pada ilmu kedokteran. Alih-alih mendapat ukuran sesuai keinginan, layanan ini justru akan menyebabkan kerusakan permanen pada alat vital.

Spesialis urologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) dr Nur Rasyid mengingatkan, kaum pria sebaiknya tidak mencari upaya untuk membesarkan alat kelaminnya. Pasalnya, alat kelamin pria dewasa sebenarnya sudah mencapai ukuran yang maksimal sehingga tidak mungkin dapat diperbesar lagi.

Kecuali pada anak dalam usia prepubertal atau sebelum memasuki usia puber, alat kelamin pria masih dapat bertumbuh sehingga masih dapat dilakukan upaya pembesaran.

"Umumnya pria setelah berusia 21 tahun, organ vitalnya sudah mengalami pematangan sempurna," ujar Nur dalam seminar media bertajuk "Disfungsi Ereksi (DE): Mengapa Pria Enggan Membicarakan serta Mengonsultasikannya ke Dokter?" di Jakarta, Rabu (22/5/2013).

Hanya saja, ukuran organ vital pria dapat bertambah besar saat mengalami ereksi. Nur mengatakan, hal ini terjadi karena peningkatan suplai darah di pembuluh darah penis. Volume darah pada penis saat ereksi dapat mencapai empat kali volume darah saat penis tidak ereksi.

"Maka, jika ereksinya lancar, ukuran penis seharusnya tidak menjadi masalah karena akan membesar sendiri," kata Nur.

Sayangnya, imbuh Nur, tidak semua pria mengetahui ukuran penis yang normal. Masih banyak yang merasa ukuran yang dimilikinya kecil, padahal sebenarnya normal.

Kata Nur, ukuran penis rata-rata orang Indonesia yang dianggap cukup untuk memenuhi fungsi organ seksual mencapai 9 sentimeter saat ereksi. Maka dari itulah, pentingnya artinya kaum pria untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi yang tepat.

Berbahaya

Nur mengingatkan masyarakat akan bahaya prosedur pembesaran alat kelamin yang masih banyak ditemukan.  Upaya pembesaran penis yang berbahaya di antaranya adalah dengan melakukan penyuntikan penambahan volume di bawah kulit penis. Penambahan volume dapat dilakukan dengan menyuntikkan silikon, bahkan hingga minyak tradisional.

Nur mengatakan, pengisian volume dengan bahan berbahaya mungkin terlihat baik pada awalnya. Namun, efeknya tidak akan lama. Paling lama sekitar enam sampai dua belas bulan. Setelahnya, bentuk dan kulit penis bisa mengalami kerusakan.

"Mungkin mirip dengan penyuntikan silikon di dada atau wajah. Jika sembarangan, tentu akan buruk hasilnya. Melakukannya pada organ vital akan berakibat kerusakan fungsi dari alat vital," paparnya

00.42

Terpapar Polusi Sejak dalam Kandungan, Anak Rentan Kena Infeksi Pernapasan


Jakarta, Pernahkah Anda penasaran mengapa anak Anda rentan terkena infeksi pernapasan di usianya yang masih begitu muda? Menurut sebuah studi, hal ini bisa jadi dipengaruhi oleh paparan polusi kendaraan bermotor pada sang ibu selama masa prenatal (sebelum kelahiran).

Ketua tim peneliti, Mary Rice, MD., dari Massachusetts General Hospital dan Beth Israel Deaconess Medical Center, Boston mengatakan studi mereka menambah bukti temuan sebelumnya dengan memperlihatkan bahwa jarak tempat tinggal dengan jalan raya selama periode prenatal erat kaitannya dengan peningkatan risiko infeksi pernapasan pada anak-anak.

Studi ini melibatkan 1.271 pasangan ibu dan anak yang berpartisipasi sejak trimester kehamilan pertama, antara tahun 1999-2002 dalam sebuah riset yang bernama Project Viva di Massachusetts, AS. Jarak antara rumah partisipan dengan jalan raya terdekat di lingkungannya dihitung dengan menggunakan software sistem informasi geografis.
Infeksi pernafasan yang dimaksud dalam studi ini diantaranya pneumonia, bronchiolitis (peradangan yang terjadi pada bronchioles yaitu cabang-cabang kecil dari saluran pernafasan), croup (infeks yang disebabkan oleh virus pada saluran pernafasan bagian atas dan mengakibatkan pembengkakan dalam kerongkongan) atau infeksi pernafasan lainnya sejak lahir hingga partisipan berusia tiga tahun yang dilaporkan langsung oleh sang ibu setelah mendapat diagnosis dari dokter.

Analisis statistik dari kaitan antara paparan polusi dari jalan raya dan infeksi pernafasan pada anak juga telah disesuaikan dengan gender dan berat lahir si anak, tingkat pendidikan sang ibu, tingkat pendapatan keluarga, tingkat pendidikan dan pendapatan lingkungan sekitar atau tetangga, kebiasaan merokok sang ibu selama masa kehamilan, kebiasaan merokok anggota keluarga pasca persalinan, kebiasaan menyusui, tingkat kehadiran di tempat penitipan anak, keberadaan anak-anak lain dalam satu rumah tangga, hingga ke musim kelahiran.

Seperti dilansir Medindia, Senin (27/5/2013) dilaporkan bahwa dari 1.271 pasangan ibu-anak yang diamati, 6,4 persen diantaranya tinggal dengan jarak kurang dari 100 meter dari jalan raya; 6,5 persen tinggal 100-200 meter dari jalan raya; 33,7 persen tinggal 200-900 meter dari jalan raya; dan 53,4 persen tinggal 1000 meter lebih dari jalan raya.

Setelah disesuaikan dengan faktor-faktor di atas, termasuk faktor risiko infeksi pernafasannya, barulah diketahui bahwa anak yang ibunya tinggal dengan jarak kurang dari 100 meter dari jalan raya selama masa kehamilan berpeluang 1,74 kali lebih besar untuk mengidap infeksi pernafasan ketimbang anak yang ibunya tinggal 100 meter atau lebih dari jalan raya.

Sedangkan partisipan yang tinggal 100-200 meter dari jalan raya berpeluang 1,49 kali lebih besar untuk mengidap infeksi pernafasan. Dan benar saja ketika partisipan mencapai usia tiga tahun, sebanyak 678 anak (53,3 persen) didiagnosis mengidap sedikitnya satu jenis infeksi pernafasan.

Hal ini berarti semakin menguatkan dugaan peneliti bahwa ibu hamil yang tinggal di dekat jalan raya dan terpapar dengan polusi kendaraan dari jalanan tersebut berisiko menyebabkan infeksi pernafasan pada si jabang bayi yang dikandungnya.

23.02

Seberapa Sering Boleh Mengonsumsi Suplemen?


:
JAKARTA   .Kekurangan vitamin dapat mengurangi efektivitas kerja organ dan penurunan daya tahan tubuh. Tak heran bila beberapa orang disarankan mengkonsumsi suplemen vitamin, untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tubuhnya.

Namun sebetulnya, seberapa banyak kita boleh mengonsumsi suplemen vitamin tiap harinya? Untuk mencegah efek merugikan suplemen vitamin, hindari kebiasaan mengonsumsi harian tanpa dosis tertentu. Suplemen yang menjanjikan keuntungan mencengangkan juga harus dihindari. Jangan lupa juga untuk selalu membaca kandungan suplemen sebelum penggunaan.

Sebagian besar praktisi kesehatan, setuju makanan alami adalah sumber optimum nutrisi. Jika pola makan buruk atau kemampuan tubuh menyerap nutrisi rendah, saati itulah asupan nutrisi tambahan diperlukan.

Nutrisionis Lauren Schmitt merekomendasikan orang tua, wanita hamil, dan anak untuk mengkonsumsi ntuk wanita yang mengalami menstruasi hebat, vegetarian, dan hanya mengasup 1.600 kalori per hari.

Berbagai kondisi medis, seperti penyakit kronis multivitamin karena berisiko mengalami kekurangan nutrisi. Hal yang sama juga diberlakukan upendernaan dan alergi makanan, juga memerlukan asupan vitamin. Mengonsumsi nutrien berlimpah dari makanan langsung jarang menimbulkan masalah. Namun, hal yang sama tidak didapatkan bila asupan vitamin terbanyak justru dari suplemen.

Suplemen vitamin bisa mengakibatkan mual, diare, kram perut, dan mengurangi kemampuan kognitif, interaksi dengan beberapa obat malah berakibat kematian. Asupan berlebih suplemen vitamin A bisa mengakibatkan hypervitaminosis A. kondisi ini ditandai ketidaknormalan liver, berkurangnya kerapatan tulang, dan cacat lahir.

Kelebihan suplemen vitamin B 12 walaupun tidak mengakibatkan keracunan, dapat berinteraksi dengan obat seperti antibiotik dan anti diabetes. Kendati begitu, mengonsumsi makanan sehat dengan nutrisi seimbang, belum tentu menutup peluang kekurangan nutrisi pada tubuh. Oleh karena itu, sebelum memilih suplemen, pastikan mengetahui lebih dulu jenis vitamin yang kurang pada tubuh.

Uji yang dilakukan meliputi banyaknya sel darah, tingkat glukosa, elektrolit, dan fungsi organ. Dokter juga akan menanyakan pola makan dan gaya hidup. Kekurangan vitamin bisa diperiksa berdasarkan gejala yang ada dan dikonfirmasi dokter melalui pemeriksaan kesehatan keseluruhan dan kebiasaan pola makan.

Maksimalkan penyerapan vitamin

Sebaiknya, seseorang mengkonsumsi makanan dan suplemen dengan sifat sesuai. Misalnya, mengkonsumsi vitamin yang larut dalam lemak dengan lemak sehat. Hal ini dikarenakan vitamin yang larut dalam lemak seperti E dan K, akan memberikan hasil terbaik bila dibarengi konsumsi lemak sehat misalnya kacang, minyak ikan, dan minyak zaitun.

Mengkonsumsi vitamin dan makanan juga bisa mencegah terjadinya mual. Hal ini mungkin terjadi pada konsumsi vitamin D. Pengguna suplemen juga sebaiknya membagi dosis konsumsi. Memilih vitamin yang bisa dibagi dalam dua dosis lebih kecil bisa meningkatkan penyerapan.

''Untuk memaksimalkan manfaat, sebaiknya pilih vitamin yang terdiri atas 2 sampai 3 kapsul per hari, daripada 1 vitamin besar tapi ditelan sekaligus," kata praktisi kesehatan, Dr. Mahmet Oz.

Sebelum mengkonsumsi, pastikan belum lewat tanggal kedaluwarsa. Bila vitamin sudah kedaluwarsa, sebaiknya segera dibuang. Vitamin sebaiknya disimpan dalam kulkas untuk mengawetkan kesegaran dan efektivitasnya